Referensi Memilih Asuransi & Investasi: marketing academy
Most Popular
Showing posts with label marketing academy. Show all posts
Showing posts with label marketing academy. Show all posts

Friday, 28 September 2018

PRUUniversity Untuk Mendidik Agen, Agar Kualitas Pelayanan Kepada Nasabah Prudential Semakin Meningkat

PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) meresmikan PRUuniversity sebagai platform untuk memperkaya pengetahuan dan mengembangkan kapabilitas karyawan dan tenaga pemasar agar dapat melayani jutaan keluarga di Indonesia yang telah memberikan kepercayaannya kepada Prudential.
Jens Reisch, President Director Prudential Indonesia, menjelaskan, “PRUuniversity didirikan untuk terus meningkatkan profesionalisme karyawan dan tenaga pemasar kami secara inovatif, efisien dan relevan, meningkatkan kemampuan mereka untuk dapat merespon tuntutan bisnis yang terus berubah-ubah secara cepat, agar mereka dapat semakin sukses dalam karirnya.”

BACA JUGA

Untuk memastikan agar masyarakat Indonesia mendapatkan perlindungan yang terbaik, literasi keuangan dan kesadaran mengenai pentingnya asuransi jiwa harus terus ditingkatkan. Kurikulum di PRUuniversity didesain agar karyawan dan tenaga pemasar Prudential mampu mengedukasi publik dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah.
Pada kesempatan ini, Prudential menggandeng PPM Manajemen yang akan menyelaraskan kurikulum pelatihan yang sudah ada dan meningkatkan kapabilitas internal trainers. Kerja sama ini melengkapi program pelatihan dan sertifikasi seperti LOMA (Life Office Management Association), LIMRA (Life Insurance Marketing and Research Association), FPSB (Financial Planning Standards Board), serta lembaga pengembangan profesional lainnya.
Kurikulum pelatihan  dan sertifikasi Prudential tersedia di tiga lokasi utama di Jakarta, tujuh lokasi di luar Jakarta, dan 54 pusat lisensi yang melayani 409 Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) di seluruh Indonesia.
Wahyu Wibowo, Chief Learning & Development Officer Prudential Indonesia, menambahkan, “Peluncuran PRUuniversity juga menandai perubahan dalam paradigma belajar di Prudential Indonesia, dengan secara inovatif mengubah cara karyawan dan tenaga pemasar menambah wawasan dan berbagi ilmu. Memanfaatkan kemajuan teknologi digital, kami menyediakan platform belajar online yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja.”
Platform ini dapat menghubungkan 2.000 karyawan dan 277.000 tenaga pemasar Prudential yang tersebar di 169 kota di Indonesia, menyediakan forum belajar kolaboratif berbasis social learning agar dapat saling berbagi pengalaman, kisah sukses dan best practices.
“Dengan diluncurkannya PRUuniversity hari ini, ditambah dengan core values dan leadership capabilities yang kami tanamkan di Prudential, kami berharap dapat menghasilkan karyawan dan tenaga pemasar berkualitas yang dapat memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan industri asuransi di Indonesia”, tutup Jens.

*Artikel ini telah tayang di kontan online (6/7/18), dengan judul “Dirikan PRUuniversity, Prudential Indonesia kuatkan kualitas pelayanan”


VIDEO


Sunday, 23 September 2018

Adakah Bisnis Modal 0 Rupiah? Cari Tahu Disini


Anda tahu, kenapa membangun bisnis didunia asuransi itu mudah? Karena hanya modal “mulut” saja kita bisa membangun bisnis beromset milyaran, dan dalam sekejap. Apapun itu merk asuransinya, asalkan fundamental perusahaan asuransinya memang kuat. Kebetulan saya sendiri berada dibawah bendera Prudential corporation. Jadi, otomatis saya juga sangat merekomendasikan bagi anda yang baru mau mulai merintis bisnis di asuransi untuk juga ikut bernaung dibawah bendera Prudential. Atau, paling tidak memilih perusahaan asuransi yang berada dalam jajaran peringkat 5 besar nasional.
Beberapa hari yang lalu saya baru saja bertemu dengan seorang teman lama yang sudah sukses luar biasa. Memiliki perusahaan travel umroh dan haji plus, dengan puluhan cabang dan mitra yang tersebar di Indonesia. Tapi insyaallah dia amanah, karena model bisnisnya bukan berbasis multilevel, sebagaimana yang banyak beredar. Jadi relatif aman, tidak berpotensi muncul kasus seperti “abu tour”, “First Travel”, dan lain sebagainya.
Dalam pertemuan singkat itu dia banyak cerita, bagaimana membangun bisnis, bagaimana potensi penghasilan,  dan bagaimana perputaran uangnya. Sampai kemudian dia juga sekaligus menawarkan untuk ikut joint di bisnisnya, dengan skema “Cabang Mitra”. Hampir mirip-mirip franchise gitu. 
Cerita singkatnya, tawaran ini serius. Dia akan support semua sistemnya, kita di cabang mitra yang jalankan. Modal yang di butuhkan? 100 juta rupiah untuk beli perlengkapan ke dia, masih ditambah biaya awal operasional pendirian; sewa kantor, beli peralatan kantor, gaji bulanan staf kantor, dan beberapa biaya umum untuk memulai sebuah bisnis. Ohya, yang tidak boleh dilupakan adalah, biaya untuk mempersiapkan marketing mitra, meliputi training, dan lain sebagainya.
Taruhlah, modal awal yang dibutuhkan mencapai 125 juta rupiah, ini sudah termasuk paling irit. Sementara pendapatannya, sebagaimana kita tahu hasil bisnis selalu dihitung berdasarkan persentase dari omset. Di bisnis ini, omset dihitung berdasarkan biaya yang harus dibayarkan nasabah untuk berangkat umroh. Taruhlah rata-rata biayanya ada di kisaran 25 juta rupiah per jamaah. Dari nilai 25 juta rupiah tersebut cabang mitra berhak mendapatkan sekitar 3 juta rupiah. Kalau dipersentase sama dengan 12 %. Ini masih pendapatan kotor, karena mesti di bagi lagi dengan alokasi pengambalian modal awal, dan biaya operasional bulanan. Silahkan dihitung sendiri, berapa bersihnya.
Oke, sampai disini kita sudah ketemu hitungan omset dan pendapatannya. Sekarang coba kita bandingkan dengan hitungan pendapatan di bisnis asuransi. Setiap perusahaan asuransi menerapkan perhitungan yang berbeda bagi mitranya. Di Prudential memakai perhitungan seperti ini: 30 % ditahun pertama, ditambah 30% lagi pada tahun kedua, masih ditambah lagi masing-masing 5% pertahun pada tahun ketiga sampai tahun kelima. Cukup? Belum, karena masih ada bonus produksi yangg besarnya bervariasi, antara 20-40 % pertahun. Sudah? Belum, masih ada lagi bonus persistensi yang besarnya juga berbeda setiap tahunnya. Ada lagi namanya overiding bagi mitra yang berhasil menggondol pangkat leader atau manajer, juga masih ada bonus traveling, belum dihitung juga pendapatan dari kontes-kontes yang setiap bulan selalu ada.
Dalam artikel ini saya batasi untuk fokus hanya pada pendapatan dari sisi bonus reguler saja. Besarnya masih ingat? 30 + 30 + 5 + 5 + 5 selama 5 tahun, semuanya dalam persen. Kalau bisnis travel umroh, omset di hitung dari jamaah, kalau toko kelontong omset dihitung dari berapa banyak barang yang terjual, di Prudential sama saja, omset juga di hitung dari berapa banyak nasabah yang berhasil didapatkan. Mau bisnis apapun, omset selalu dihitung dari berapa banyak barang atau jasa yang berhasil dijual. Karena itulah, builshit mereka yang menawarkan bisnis tanpa jualan.
Prudential memililki perhitungan omset sebagai berikut: premi yang dibayarkan oleh nasabah dalam 1 tahun, itulah yang menjadi omset kita. Misalkan saja saya mendapatkan 1 nasabah dengan premi 12 juta, maka ya 12 juta itulah omset saya. 
Saya tahu, pasti ada dari anda yang bertanya, “Terus, lha kalau misalkan nasabahnya bayar preminya bulanan bagaimana?”. Pertanyaan yang bagus, Prudential akan tetap menghitung omsetnya 12 juta, walaupun nasabah bayar preminya secara bulanan, yang berarti sebesar 1 juta rupiah per bulan. Perbedaannya hanya di penerimaan komisi, yang nanti akan saya jelaskan.
Kembali lagi, jadi ceritanya saya mendapatkan 1 nasabah dengan premi 12 juta per tahun, maka omset saya otomatis 12 juta juga. Perhitungan komisinya sebagai berikut:
1. 12.000.000 x 30% (tahun 1) = 3.600.000
2. 12.000.000 x 30% (tahun 2) = 3.600.000
3. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 3) = 600.000
4. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 4) = 600.000
5. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 5) = 600.000
nah, sudah kelihatan kan, total komisi atau pendapatan yang kita terima adalah; Rp. 9.000.000,- hebatnya, komisi total sebesar itu berhak kita kantongi dengan hanya sekali kerja, mendapatkan 1 nasabah. Jadi sederhananya, jualan sekali, komisi yang kita terima berkali-kali. Karena omsetnya masih jalan dan dihitung selama 5 tahun.
Kalau nasabahnya bayar tahunan, maka kita menerima komisinya juga tahunan; sebesar 3.600.000 per tahun, berlanjut sampai tahun ke 5, kalau nasabah bayar bulanan, maka kita terima komisinya juga bulanan, dengan perhitungan 3.600.000 : 12 bulan = 300 ribu per bulan, selama 5 tahun juga. Nah, apalagi kalau nasabah bayar sekaligus, atau istilahnya dalam dunia asuransi itu single premi, maka komisi selama 5 tahun itu juga akan dibayarkan sekaligus, sebesar Rp. 9.000.000.
Nah, coba bandingkan dengan bisnis travel umroh misalnya, kalau dalam 1 tahun saya berhasil mendapatkan 100 jamaah, pendapatan yang saya terima; 100 x 3.000.000 = 300.000.000.
Di Prudential kalau saya berhasil mendapatkan 100 nasabah dengan premi seperti contoh diatas dalam 1 tahun, komisi yang saya terima pada tahun berjalan adalah; 100 x 3.600.000 = 360.000.000 rupiah. 
Sedangkan saya masih menerima komisi lagi selama 5 tahun ke depan, di bisnis travel umroh komisinya sudah selesai sekali saja.
Ini belum hitungan bonus, yang akan saya tulis di artikel berikutnya. Belum dihitung modal yang harus dikeluarkan juga. Kata teman saya, “Kamu tidak akan bisa punya travel umroh kalau ga bisa sediakan 125 juta, atau minimal 100 juta untuk beli perlengkapan”. Sementara kata Prudential, “Kamu hanya perlu sediakan BBM setiap hari untuk menjalin silaturahmi, dan mulailah melakukan sosialisasi penawaran produk kita”. Jadi, anda pilih mana? 

Atau masih mencari bisnis yang tidak jualan, tidak ngajak-ngajak orang? Bisnis yang ditinggal duduk-duduk santai omsetnya datang sendiri? Ga usah ngapa-ngapain bisa sukses? Kalau memang benar ada bisnis yang seperti itu, tolonglah ajak saya. Saya juga mau. Silahkan kontak saya melalui kolom komentar.

Sunday, 16 September 2018

10 Profesi Impian Millenial dengan Gaji Bagus & Tingkat Stres Rendah; No 8 Paling Menarik


Millennial dikatakan lebih rewel dalam urusan pekerjaan. Menurut pakar, banyak dari mereka yang suka tidak sabar dalam membangun karier sehingga mudah pindah kerja. Biasanya millennial mencari profesi yang memberikan penghasilan cukup tinggi namun dengan tingkat stres cenderung rendah. Generasi orang yang tahun ini berusia 19 hingga 35 tahun itu pun mendambakan keseimbangan hidup atau work life balance. Jika Anda salah satunya, sepuluh pekerjaan mungkin jadi profesi impian Anda:
1. Web Developer
Salah satu kelebihan millennial dibanding generasi sebelumnya adalah mereka lebih mengerti gadget dan dunia digital. Untuk itu, web developer bisa menjadi profesi yang patut dipertimbangkan. Apalagi pekerjaan itu menghasilkan gaji yang lumayan namun tingkat stres tergolong sedang.
2. Dokter Gigi
Menjadi dokter menjadi impian banyak millennial. Tapi jika Anda mau kerja di sektor kesehatan tapi dengan tingkat stres lebih rendah, dokter gigi bisa jadi pilihan. Apalagi dokter gigi umumnya tidak terlalu menuntut dedikasi waktu sehingga millennial bisa tetap punya work life balance yang mereka idamkan.
3. Software Developer
Software developer makin banyak dibutuhkan karena hidup manusia yang tidak bisa lepas dari gadget beserta aplikasinya. Karena itu, profesi ini bisa dibilang cukup menjanjikan. Pekerjaan tersebut cukup ideal untuk millennial yang menginginkan kerja tim namun bisa juga bekerja dari rumah.
4. Analis Sistem Komputer
Perkerjaan ini mungkin tidak familiar. Namun profesi tersebut juga cukup dibutuhkan di zaman sekarang. Biasanya analis sistem komputer akan membantu perusahaan meng-install dan meng-upgrade sistem digital baru hingga melatih para pegawai untuk menggunakan sistem tersebut. Butuh ilmu dan kemampuan yang tidak sembarangan bukan tak mungkin profesi ini menghasilkan gaji tinggi idaman millenial.
5. Insinyur Mekanik
Pekerjaan sebagai insinyur mekanik mungkin sering dijauhi orang karena dianggap berat dan sulit. Tapi profesi cocok untuk millennial yang suka mengeksplor kreatifitas dan teknologi, serta suka bekerja tim dan mencari solusi dari suatu masalah. Namun tingkat stres insinyur mekanik lebih tinggi dari pekerjaan sebelumya.
6. Interpreter dan Translator
Berkat internet, banyak millennial di zaman sekarang bisa dengan mudah menguasai banyak bahasa. Jika Anda salah satunya, coba saja bekerja sebagai interpreter dan translator. Selain bisa menghasilkan gaji yang lumayan, Anda bisa mengatur waktu kerja dengan fleksibel.
7. Terapis Radiasi
Terapis ini biasanya berhubungan dengan pasien yang butuh perawatan radiasi. Untuk menjadi terapis radiasi yang baik dibutukan kemampuan dalam hal ketelitian, penggunaan mesin, hingga komunikasi. Pekerjaan itu pun cocok untuk para millennial yang ingin terlibat dalam pekerjaan yang membantu orang tapi tetap menghasilkan.
8. Agen Sales Asuransi
Pekerjaan ini bisa dipilih untuk millennial yang ingin fleksibilitas dalam bekerja. Umumnya agen sales asuransi bisa memilih waktu kerja sendiri sesuai dengan keinginan pribadi dan kebutuhan klien. Dikatakan juga bahwa pekerjaan itu tidak butuh gelar pendidikan tertentu meski memang perlu kursus atau sertifikat kerja khusus.
9. Kartografer
Kartografer juga cukup dibutuhkan di zaman sekarang. Bagiamana tidak, berkat para kartografer Anda bisa dengan mudah menemukan sebuah lokasi melalui peta digital. Umumnya kartografer butuh kemampuan matematika, komputer, dan geografi yang baik jadi memang bisa sedikit lebih rumit. Namun menjadi seorang kartografer memungkinkan Anda untuk mengunjungi berbagai tempat yang menjadi impian millennial.
10. Terapis Pijat
Seperti agen asuransi, pekerjaan ini juga tidak menuntut dedikasi waktu. Anda pun bisa dengan fleksibel mengatur waktu kerja sesuai keinginan sendiri dan kebutuhan klien. Pekerjaan ini cocok bagi millennial yang ingin mencari pekerjaan paruh waktu selagi melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Wednesday, 12 September 2018

Menjadi Seorang Penjual Dalam 5 Menit

Semua orang bisa punya produk dan semua orang bisa buka bisnis, tetapi kalau tidak bisa marketing maka sia-sia produk dan bisnis tersebut. Dan, asuransi itu unik karena bukan sekedar memasarkan atau menawarkan, tetapi ada kombinasi edukasi juga didalamnya. Itulah kenapa sebagian orang mengatakan; “Menjual produk asuransi adalah tantangan terbesar dalam dunia marketing”. Hanya menawarkan tanpa edukasi pasti sulit closing, sebaliknya melulu edukasi tanpa penawaran juga tidak akan closing.
Dalam tulisan kali ini, saya mencoba membahas marketing secara umum, tidak hanya terbatas pada produk asuransi. Karena akan menjadi dasar tehnik dan inspirasi dalam melakukan penjualan. Marketing asuransi akan dibahas dalam tulisan berikutnya, setelah tulisan ini bisa difahami.
Pesan dalam tulisan ini adalah harus bisa menjual dan berani menjual. Apa yang disampaikan dalam 5 menit ini adalah yaitu :
Pertama, membuat penawaran yang menarik, seperti Jual Butuh Uang, Butuh Uang Bangettt...., Harga di bawah NJOP, Beli satu dapat dua, Potongan 100% pada pembelian kedua, Beli mas berhadiah payung dan lain-lainnya sesuai dengan kreativitas penjual. Yang penting, sekali lagi harus menarik. Agar menarik harus punya nilai tambah dan mengurangi nilai kurang
Kedua, bisa dipercaya, yaitu penawaran kita harus bisa dipercaya, misalkan Money Back Guarantee, Didukung oleh Pengembang Besar, Didukung oleh Bank Besar, dan lainnya. Agar lebih bisa dipercaya harus meminimalisir Risk Reversal dari konsumen yang kekhawatiran konsumen Anda terhadap produk
Ketiga, teknik menyampaikan dengan cara yang tepat, yaitu penawaran yang bisa dipercaya ini harus disampaikan dengan tepat. Agar menyampaikan lebih tepat kita harus menyediakan data-data dan referensi dalam penawaran.
Keempat, kepada target market yang tepat dengan jumlah yang banyak, yaitu penawaran yang bisa dipercaya dengan teknik menyampaikan yang tepat harus disampaikan kepada target market yang tepat dan dalam jumlah yang banyak. Agar lebih tepat target market, maka penawaran harus dibuat segmentasinya, gunakanlah digital marketing yang dikenal lebih tepat target.
Kelima, harus ada limit atau terbatas. Apa yang dilimit? salah satu yang terbaik adalah jumlah pembelian hari ini.
Entah Anda karyawan, pebisnis, penjual, makelar dan profesi apapun, kita perlu yang namanya meningkatkan diri belajar. Karena kita hidup bila TIDAK BELAJAR akan stuck terlebih dalam urusan hal-hal basic seperti mindset, cara berpikir, cara mengambil keputusan, membuat kebiasaan baik menuju sukses, cara berkomunikasi, mengelola emosi dalam bisnis dan kehidupan.
Bila anda ingin belajar lebih lanjut dan menjadi orang pertama yang mempelajari artikel-artikel dalam blog ini, silahkan daftarkan email anda untuk menerima berlangganan newsletter dari blog ini.