Referensi Memilih Asuransi & Investasi: catatan dahlan iskan
Most Popular
Showing posts with label catatan dahlan iskan. Show all posts
Showing posts with label catatan dahlan iskan. Show all posts

Tuesday, 11 September 2018

Tiap 10 Tahun di Lubang Yang Sama

Mengapa setiap 10 tahun terjadi krisis ekonomi? Persis.  Setiap 10 tahun: 1988 (TMP), 1998 (Krismon), 2008 (Lehman Brothers/Bank Century) dan 2018 ini (Belum tahu disebut apa).
Itu sama sekali bukan mistik. (Baca: disway edisi kemarin). Itu lebih seperti siklus sepuluh tahunan.
Tahun 1978 (ibunya Via Vallen sudah lahir atau belum ya?) ekonomi Indonesia mulai booming. Berkat kebijakan orde baru. Yang menggariskan ekonomi sebagai panglima.
Pertumbuhan sebagai lokomotifnya. Menggantikan kebijakan orde lamanya Bung Karno. Yang politik jadi panglima. Konfrontasi jadi agitasinya.
Sejak 1978 itu ekonomi meledak. Untuk ukuran negara miskin. Swasta berkembang pesat. Begitu juga modal asing.
Sumber dana dimudahkan. Deregulasi bank dilakukan. Pengusaha boleh mendirikan bank kapan saja. Hanya dengan modal Rp 10 miliar.
Semua grup punya bank sendiri. Memberi kredit ke perusahaannya sendiri. Dari dana deposito masyarakat.
Ekonomi berkembang.
Bahan baku tidak cukup. Belum sempat disiapkan. Inflasi naik. Terlalu banyak uang beredar. Terlalu mudah dapat kredit. Ekonomi maju.
Bank berlomba memberi pinjaman. Umumnya kurang hati-hati. Bisa menerima tanah kuburan. Sebagai jaminan. Tanpa dicek bahwa itu tanah kuburan. Saking mudahnya.
Ekonomi seperti balon. Dindingnya tidak kokoh. Dipompa terus. Menggelembung besar. Meledak.
Dilakukanlah Tight Money Policy (TMP). Pada tahun 1988. Suasananya seperti mobil yang lagi lari kencang. Tiba-tiba direm. Mendadak. Kelimpungan. Banyak perusahaan yang selip. Atau terguling. Masuk jurang.
Dua tahun lamanya ekonomi seperti berhenti. Tapi itulah hukum ekonomi. Yang harus dipahami.
Tahun ketiga ekonomi mulai jalan lagi. Pengusaha nakal kian berkurang. Bank kian hati-hati.
Tahun keempat ekonomi lancar lagi. Menggebu lagi.
Tahun kelima sudah pada lupa. Sudah sangat bergairah. Seperti tidak pernah terjadi TMP.
Mencari kredit mudah lagi. Bahkan banyak kredit murah dari luar negeri. Dengan bunga hanya 4 persen. Dalam dolar.
Hampir tiap minggu ada lembaga keuangan yang datang. Ke kantor saya. Dari Singapura. Atau Hongkong. Atau Amerika. Menawarkan dana murah itu.
Siapa pun akan tergiur. Ibaratnya: ambil kreditnya, tukarkan ke rupiah, pinjamkan ke pengusaha lain, sudah untung. Gak usah kerja!
Saya tidak tergiur. Saya ini orang bodoh. Yang punya prinsip: cari uang itu harus dengan bekerja.
Banyak teman saya membodoh-bodohkan saya. Biar saja.
Ia sendiri mengambil pinjaman amat-amat besar. Untuk ekspansi ke segala penjuru: beli-beli hotel. Bangun lapangan golf. Beli real estate.
Ekonomi begitu panasnya.
Lantas: dooorrrr!
Krismon. Pada tahun 1998.
Ia susah sekali. Tidak mampu membayar pinjaman. Semua assetnya disita.
Ia susah sekali. Susahnya orang kaya raya. Tetap saja kaya raya. Begitulah.
Sampai tahun ketiga ekonomi masih berhenti. Di mana-mana orang pidato krismon.
Tahun kelima banyak yang sudah sembuh. Bank tinggal beberapa gelintir. Tapi sehat semua. Kredit bisa cair lagi. Ekonomi bergerak lagi.
Tahun keenam sudah banyak yang lupa lagi: apa itu krismon.
Banyak perusahaan yang justru lebih kuat setelah krismon. Mereka belajar banyak. Dari krisis ke krisis.
Tahun 2007 ekonomi meledak-ledak lagi. Terutama di Amerika.
Inflasi sangat rendah. Bank menggelontorkan dana lagi.
Banyak yang salah analisa: inflasi rendah saat itu dikira hasil efisiensi. Sehingga tidak bahaya. Kalau dana murah terus digelontorkan.
Maka terjadilah krisis tahun 2008. Indonesia selamat saat itu. Berkat bail out. Untuk menyelamatkan perbankan. Yang sekarang --10 tahun kemudian-- disalah-salahkan itu.
Sekarang baru disadari: inflasi rendah menjelang tahun 2008 itu bukan karena efisiensi.
Karena apa?
Karena membanjirnya barang murah. Ke seluruh pasar dunia. Yang asalnya dari negeri panda.
Kita belum tahu: apakah sepuluh tahun lagi krisis berulang.
Belum tentu. Tergantung kecerdikan tiap bangsa.
Sayang banyak yang lupa. Sehingga terulang lubang yang sama.(dahlan iskan)

Forest City Nan Kapan Kapan

Ada reklamasi. Ada kontroversi.
Reklamasinya sangat besar. Persoalan yang muncul juga sangat besar. Itu di Malaysia. Di pantai yang menghadap Singapura.
Investornya dari negeri Panda. Dengan nilai yang luar biasa: Rp 100 triliun setara.
Saya dua kali ke sana. Ingin tahu apa gerangan sebabnya. Sebelum pemilu 9 Mei pun sudah membara.
Mahathir menjadikan reklamasi ini salah satu isu utama. Untuk menggoyang Najib Razak dari singgasana.
Hemm.... Bagaimana bisa, kata Mahathir. Itu sama dengan menjual negara.
Isunya: siapa membeli rumah di tanah reklamasi itu diberi hak istimewa. Bisa mendapat visa tinggal sangat lama. Sembilan tahun masanya.
Proyek ini diberi nama Forest City. Dengan tema: Kampung halaman kedua. Mayoritas pembelinya memang dari sana.  Dari utara.
Banyak juga pembeli dari Singapura. Pun dari Indonesia. Termasuk Surabaya.
Dari segi desain, Forest City memang luar biasa. Kota baru ini amat modernnya. Hampir semua bangunannya setinggi surga. Dengan arsitektur bangunan yang sangat jumawa.
Pengunjung pameran Forest City di Malaysia sebelum pelaksanaan pemilihan umum yang lalu.
Masalahnya di harga. Tidak mungkin terjangkau oleh bumiputra. Maka isu jual negara pun menjadi sangat mengena. Menjelang pemilihan raya.
Najib tumbang. Mahathir menang. Forest City seperti terpanggang.
Mahathir tidak bisa sembunyi. Harus memenuhi janji. Forest City harus ditinjau kembali.
Tapi ada Sultan Johor di proyek itu. Sultan terkuat di antara sultan-sultan ada di seluruh negeri.
Semua pihak menjadi seperti gamang. Beberapa mentri mulai bicara: mengambang. Proyek ini terlalu besar untuk ditiadakan. Terlalu telat untuk dibatalkan.
Saya tidak bisa membayangkan: kapal besar yang lagi goyang. Pembeli baru tidak lagi mau datang.
Mahathir tentu tidak bisa begitu saja: menafikannya. Ini bukan proyek pemerintah.
Tapi Mahathir keukeuh: tidak akan mau mengeluarkan visa khusus. Visa tinggal di Malaysia. Biar pun membeli rumah di Forest City tetap saja: visa biasa.
Awalnya banyak yang mengira Mahathir tidak akan konsisten. Usaha meyakinkannya terus dilakukan.
Misalnya yang diupayakan menteri besar Johor, Datuk Osman Sapian. Yang terus menjelaskan pentingnya proyek Forest City bagi Johor. Juga bagi Malaysia.
Mahathir menanggapinya segera.Dengan sindiran yang mengena.
"Saya mendukung rumah-rumah di Forest City dijual ke orang asing. Agar orang-orang Malaysia tetap tinggal di rumah kayu dengan atap bocor,'' kata Mahathir. Dua hari lalu.
Memang, kata Mahathir, kalau Malaysia diberikan ke asing akan bisa berkembang pesat. Kita bisa lebih modern dari Singapura. Mereka punya uang. Bisa membangun gedung-gedung yang indah. Dan kita tetap tinggal di rumah kayu. "Kalau memang itu yang dikehendaki menteri besar saya OK. Setuju,'' kata Mahathir merajuk.
Pertempuran di Forest City tampaknya belum akan berakhir. Dan kelihatannya tidak mudah untuk berakhir. Apalagi Anwar Ibrahim juga sangat dikenal dekat dengan Sultan Johor. Berkali-kali Anwar pergi dengan pesawat pribadi sang Sultan.
Saya jadi ingin ke Forest City lagi. Kapan-kapan.(dahlan iskan)

Tongkat Pengganti Kangen Tak Ketulungan

Tidak usah khawatir. Saya tetap olahraga. Tiap hari. Biar pun perjalanan ini belum juga berhenti. Dari hari ke hari. Di Amerika ini.
Tentu saya tidak bisa senam lagi. Dengan teman-teman klub kami. Di Surabaya maupun di Betawi.
Alhamdulillah olahraga terjaga. Begitu tiba di rumah drg Ibrahim Irawan saya langsung bertanya: di mana tempat olahaga. Di Arcadia ini. Di Los Angeles ini. ''Jalan pagi saja. Di komplek perumahan kami ini. Enak sekali,'' kata tuan rumah.
Saya tidak mau jalan pagi. Kurang seru. Terlalu santai. Sulit mencapai detak jantung 110 kali/menit. Secara konstan.
Padahal, olahraga itu ada definisinya: ''Gerak tubuh, yang membuat jantung berdetak minimal 110 kali, selama 10 menit terus menerus''.
Jadi harus ada unsur:
1. Gerak tubuh.
2. Detak jantung 110 kali.
3. Minimal 10 menit.
4. Terus menerus.
Salah satu saja tidak terpenuhi belumlah bisa disebut olahraga. Misal: tiba-tiba detak jantung Anda 110 kali. Tanpa badan bergerak. Itu tidak bisa disebut olahraga. Itu disebut orang kaget.
Begitu juga jalan santai. Tidak mungkin bisa membuat detak jantung 110 kali. Langkahnya terlalu ringan. Apalagi kalau jalannya sering berhenti. Menyapa teman. Atau disapa. Rusaklah olahraganya.
Banyak juga orang semangat lari. Detak jantung orang lari bisa mencapai 130 kali. Tapi sering kali baru lima menit berhenti. Tidak tercapai unsur 10 menit. Terus menerus.
''Ada gym di dekat sini,'' ujar Ny Irawan yang juga dokter gigi. Sama-sama alumni Trisakti Jakarta.
Maka selama saya tinggal di rumah drg Irawan ke situlah saya. Gymnya buka 24 jam. Belum pukul lima pagi saya sudah mancal. Selama satu jam. Tidak berhenti. Juga tidak melambat. Dengan kecepatan 30 km/jam.
Dari layar monitor saya baca: lima menit pertama baru bisa bikin detak jantung 100. Setelah 10 menit baru bisa 110.
Skala itu saya pertahankan. Selama 50 menit kemudian. Begitu mencapai satu jam saya lihat: jumlah kalori yang terbakar 310.
Maafkan. Saya akhirnya kecantol gym. Ini gara-gara harus menunggui istri selama seminggu di rumah sakit Samarinda. Saat operasi batu ginjal dulu itu. Ada gym di dekat rumah sakit itu. Sangat sederhana. Tapi ya sudah. Dijalani saja. Rp 25 ribu/jam.
Begitulah. Selama seminggu itu saya terus menerus mancal. Ditemani rekan-rekan wartawan Samarinda. Pindah-pindah gym pula.
Di Amerika tentu lebih mahal. Di dekat drg Irawan itu sekali datang USD 28 dolar. Berarti hampir Rp 400 ribu. Dolarnya sih murah. Hanya 28. Tapi rupiahnya yang mahal. Sekarang ini.
Pun kalau dihitung-hitung perjam sebenarnya tidak mahal. USD 28 itu boleh 24 jam. Tapi siapa mau olahraga 24 jam?
Di halaman belakang rumah drg Irawan saya lihat banyak kayu. Ada juga alat pertukangan. Saya pun minta satu ranting. Yang panjang mulus itu. Saya potong dengan gergaji. Jadi 1,5 meter.
Tongkat itu saya bawa dalam perjalanan. Saya masukkan mobil. Tiap kali saya merasa penat saya berhenti. Memutar pinggang. Dengan bantuan tongkat itu.
Begitulah. Di Las Vegas saya juga ke gym. Yang untuk ke ruang gymnya harus melewati meja-meja judi.
Di kota-kota kecil pun hotelnya dilengkapi gym. Misalnya di kota Kanab. Di Arizona. Dekat Grand Canyon itu. Penduduk kota ini hanya 15.000. Tapi punya gym.
Demikian juga di kota kecil Salina. Dekat Salt Lake City. Atau di kota Grand Junction di kaki pegunungan Rocky Mountain. Di Idaho Springs. Di Burlington.
Itu kota-kota kecil semua. Tapi hotel-hotel kecilnya memiliki gym semua. Demikian juga ketika tiba di Hays lagi. Kota berpenduduk 40.000 ini punya gym yang amat besar. Amat lengkap. Belum pernah saya melihat gym yang alatnya selengkap ini.
Ruang gymnya dua lantai. Masing-masing seluas dua lapangan basket. Masih ada lagi ruang yoga. Ruang senam. Ruang rehabilitasi jantung. Ruang fisioterapi.
Selama tinggal di rumah John Mohn saya ke gym itu. Tiap jam enam pagi. Sambil membawa tongkat dari Los Angeles. ''Itu tongkat untuk apa?,'' tanya seorang pelatih di gym itu.
Saya jelaskan: kian tua saya ini terlihat kian bungkuk. Seperti ayah saya. Tongkat ini membantu saya menegakkan punggung. Lalu saya demonstrasikan gerakan tongkat itu. ''Saya mau praktekkan juga di sini,'' katanya. Mungkin basa-basi.
''Tidak perlu. Punggung Anda kan bagus,'' jawab saya.
Wanita muda itu lantas berlalu. Saya tidak sempat menjelaskan ini: bahwa tongkat itu mungkin tidak ilmiah. Bukan saran dari ahli fisioterapi.
Akhirnya saya menemukan pengganti senam. Meski kangennya kadang tidak ketulungan.(dahlan iskan)

Terus Ke Timur Mengejar Matahari


Ayolah kita mulai. Kata saya. Pada empat orang yang ada di masjid itu. Saya bisa khotbah. Kata saya lagi. Kalau tidak ada yang khotbah.
Jam sudah menunjukkan angka 14.39. Sudah hampir ashar. Jumatan belum dimulai. Tidak ada repons dari empat orang itu. Semuanya berwajah Arab. Mungkin tidak paham. Dengan bahasa Arabnya orang Jawa seperti saya.
Lalu saya ulangi lagi. Dengan lidah yang lebih saya Arab-arabkan. Kali ini ada yang menjawab. Yang bersandar ke dinding samping itu. Ia lantas merogoh saku celana. Ambil HP. Bicara-bicara.
Yang diajak bicara ternyata nongol di pintu ruang salat. Sambil menutup HPnya. Memasukkannya lagi ke saku celana.
Dari pintu itu ia langsung melangkah ke arah kursi depan. Duduk di situ. Sambil mengusap rambutnya. Dengan satu tangannya. Lalu mengusapkan tangannya itu ke celana jeannya.
Satu-satunya jemaah tua di situ langsung berdiri: azan. Ialah satu-satunya yang tidak bersandar ke dinding. Orang pertama yang tiba di masjid Hays, Kansas, Jumat lalu.
Saya kenal wajahnya. Ia imam. Tiga bulan lalu. Saat saya ke Hays ini. Ia yang juga khotbah saat itu. Dengan celana jeansnya. Dengan topi pet yang ia balik di kepalanya.
Selesai azan, pemuda yang duduk di kursi itu merogoh saku celana. Ambil HP. Membukanya. Lalu berdiri. Membaca khotbah dari layar HP. Semua dalam bahasa Arab. Saat khotbah dibaca beberapa lagi tiba. Total menjadi 9 orang. Yang Jumatan hari itu.
Khotbahnya pendek. Hanya 10 menit. Yang mendengarkan juga santai: duduk bersandar ke dinding. Ketika doa di akhir khotbah tidak ada yang mengangkat tangan.
Inilah khotbah yang sangat pendek. Meski masih kalah pendek dengan di masjid Kebon Jeruk Jakarta. Di pusatnya Jamaah Tabligh itu. Di jalan Hayam Wuruk itu. Saya suka Jumatan di situ. Khotbahnya hanya lima menit. Dengan bahasa Arab semua.
''Kok masih di Hays? Putrinya belum lulus?,'' tanya saya ke orang tua yang azan itu.
''Masih 1,5 tahun lagi,'' katanya.
Memang kian sedikit mahasiswa dari Timur Tengah di Hays. Kota yang penduduknya hanya 40.000 orang ini. Yang letaknya sangat di pedalaman ini. Yang sejauh mata memandang hanya ada ladang pertanian dan peternakan ini. Dan sumur-sumur angguk minyak ini.
Yang bertambah adalah mahasiswa dari Tiongkok. Sudah 100 orang saat ini. Fort Hays State University memang menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Henan. Di pedalaman Tiongkok. Saya pernah mengantar Chris Mohn ke Universitas di Henan itu.
Chris Mohn adalah istri John Mohn. Teman saya itu. Dia dosen di FHSU itu. Chris memperoleh masternya di Wichita State University. Yang juga kampusnya Sandiaga Uno itu. Tidak jauh dari Hays. Untuk ukuran jarak di pedalaman Amerika: 250 km.
Saat menulis artikel ini saya lagi duduk-duduk makan siang. Di dalam kampusnya Sandi itu. Di kursi kayu di bawah pohon rindang. Makan buritto. Bikinan saya sendiri. Yang saya bawa dari Hays.
Dari tempat makan ini saya bisa melihat bangunan kecil: kedai Pizza Hut. Saya baru saja dari kedai itu. Itulah kedai Pizza Hut pertama di dunia. Dari kedai itu Pizza Hut memulainya. Dengan tujuan pertama dulu: menyediakan pilihan makanan murah untuk mahasiswa. Kini kedai itu jadi museum Pizza Hut. Museum yang amat kecil. Untuk melihat seluruh isinya cukup mengintip dari kaca jendelanya.
Dari kursi makan siang ini saya juga bisa membayangkan bagaimana Sandi kuliah di sini. Dan lulus dengan summa cum laude. Untuk mata kuliah akuntansi.
Selesai acara di Wichita saya ke Columbia. Di negara bagian Missouri. Yang kampus universitasnya sangat indah itu.
Semula saya tidak ingin bertemu mahasiswa Indonesia di Columbia State University ini. Saya kan baru bertemu mereka. Tiga bulan lalu. Sahur bersama. Dan berbuka bersama.
Tapi ada pesan melalui Whatsapp. Saat saya baru selesai makan malam. Bersama tiga orang di pinggiran kota itu. ''Sekarang ini kami lagi ngobrol dengan pak Bambang Harimurti,'' kata Yanu Prasetyo dalam WA-nya. ''Mengingatkan kami saat pak Dahlan ke sini dulu,'' tambahnya.
''Lho saya juga di Columbia. Hahahaha....,'' jawab saya.
''Di mana? Saya jemput ya?'' balasnya.
''Tidak usah. Beri saja saya alamat. Saya ada mobil sendiri,'' kata saya.
Alamatnya ternyata sama: tempat sahur bersama dulu. Dalam 10 menit saya tiba. Kini ada 26 mahasiswa kita di Columbia State University. Semua ambil master. Atau doktor. Tidak ada lagi yang S1.
Ada yang ambil doktor nano teknologi. Seperti Naadaa Zakiyyan itu. Yang kini berkumis rapi itu. Yang rambutnya dicat kuning kemerahan itu. Yang tidak jadi pulang ke Bondowoso karena langsung S3 itu.
Ada yang ambil doktor kimia: M. Andriansyah. Anak Lombok itu. Yang awalnya di SMA Mataram lalu dapat beasiswa untuk SMA di Kanada itu. Yang rambutnya juga dicat kemerahan itu.
Ada yang ambil doktor Emaging. Doktor Matematik.
Ada yang ambil master ilmu komputer. Dewi Kharismawati. Yang terus berjilbab itu. Dan ada satu yang ambil master jurnalistik: Indah Setiawati. Yang dulu wartawati The Jakarta Post.
Bambang Harimurti, kolega saya di majalah Tempo dulu akan memberi seminar di situ. Di jurusan jurnalistik itu. Hari ini.
Dari Columbia saya masih akan terus ke timur. Mengejar matahari terbit.(dahlan iskan)

Pilih Agen Asuransi

loading...