Referensi Memilih Asuransi & Investasi: bisnis asuransi
Most Popular
Showing posts with label bisnis asuransi. Show all posts
Showing posts with label bisnis asuransi. Show all posts

Thursday, 17 January 2019

Pilih Mana; Asuransi Atau Investasi? Sebuah Pengantar



Pernah mendengar istilah-istilah berikut ini; investasi? Asuransi? Tahu dan fahamkah anda bagaimana perbedaan diantara keduanya?
Pernah mengenal istilah-istilah berikut ini; saham? Reksadana? Unitlink? Tahu dan fahamkah anda bagaimana ketiganya berbeda, dan bahkan seringkali diperdebatkan dalam forum-forum komentar social media?
Ada banyak orang yang hanya mengenal atau bahkan hanya pernah mendengar istilah-istilah tersebut diatas, atau mungkin memahami hanya sekedarnya saja. Memahami hanya pada bagian kulit luarnya saja, tidak secara utuh. Bahkan meskipun itu seorang agen asuransi, atau pialang saham, ataupun juga agen reksadana.
Bahwa seorang agen asuransi memahami produk asuransinya, itu adalah sebuah keniscayaan. Bahwa seorang pialang saham sangat hafal seluk belu persahaman adalah benar, dan bahwa seorang agen reksadana mampu menjelaskan secara detil portofolio reksadananya itu adalah wajar. Tetapi tidak banyak orang yang mampu memahami ketiganya sekaligus.
Dan inilah yang menjadi masalah sehingga memicu perdebatan. Agen reksadana dan pialang saham akan dengan sangat menggebu-gebu menyatakan, “Jangan taruh uangmu di asuransi, rugi!”.
“Lebih baik taruh di reksadana bla..bla..bla.., dalam jangka waktu sekian tahun pasti sudah untung sekian belas persen”, kata agen reksadana.
“Mending belikan saham A… atau saham B… atau sekaligus saham C…, nanti dalam kurun waktu tertentu pasti nilainya sudah berlipat-lipat kali naik”, tukas pialang saham.
Ketika terjadi perdebatan seperti itu, apa kata agen asuransi? “Ya meskipun untung, tapi kan belum aman dari resiko sakit,, kecelakaan,, bla..-bla… bla… malah-malah gimana kalau harga saham dan reksadananya jatuh, terus kamu nya kena serangan jantung, uang mana lagi yang mau dipakai buat biaya berobat?.
Itulah agen asuransi, jawabnya betul, tetapi keluar dari substansi. Masalah investasi tentu saja jawabnya juga harus berdasarkan investasi juga. Nah, ini jadi masalah selanjutnya; tidak banyak agen asuransi yang memahami dan menguasai ilmu perinvestasian.
Padahal produk asuransi sekarang ini yang lagi marak adalah produk asuransi unitlink. Sebuah produk yang memadukan antara proteksi asuransi dengan keuntungan berinvestasi. Sayangnya, masih banyak agen asuransi yang hanya memahami pada bagian asuransi nya saja, pada bagian investasi yang difahami hanya sekedarnya saja.
Masalah selanjutnya lagi adalah, justru banyak terjadi diantara agen asuransi sendiri yang berdebat, baik agen asuransi dalam satu perusahaan maupun agen antar perusahaan asuransi. “Apakah asuransi bisa menguntungkan sencara investasi?” jawabannya bervariasi, tergantung bagaimana tingkat pemahaman agen yang bersangkutan terhadap ilmu perinvestasian. Dan jawaban ini bisa anda simak di kolom-kolom komentar media social, dan hasilnya adalah; perdebatan yang tiada henti dan tiada solusi. Semakin kita mengikuti perdebatan, semakin kita akan dibuat bingung dan galau, “Beli asuransi aman gak ya, untuk menyiapkan perencanaan keuangan masa depan?”
Dan pada bagian inilah yang akan dibidik oleh artikel ini. Bagaimana memahami asuransi dan investasi? Bagaimana membedakan dan bahkan mengelola asuransi (unitlink) sebagaimana mengelola portofolio reksadana dan saham untuk mempersiapkan keuangan dimasa depan?
Namun, karena artikel ini pasti akan jadi sangat panjang, maka agar tidak terlalu panjang, artikel ini akan dibuat secara berseri, dengan masing-masing judul yang berbeda, dalam tema besar; “Bagaimana meraih keuntungan di masa depan dengan berinvestasi di unitlink, sebagaimana untung nabung saham dan reksadana”. bersambung

Sunday, 23 September 2018

Adakah Bisnis Modal 0 Rupiah? Cari Tahu Disini


Anda tahu, kenapa membangun bisnis didunia asuransi itu mudah? Karena hanya modal “mulut” saja kita bisa membangun bisnis beromset milyaran, dan dalam sekejap. Apapun itu merk asuransinya, asalkan fundamental perusahaan asuransinya memang kuat. Kebetulan saya sendiri berada dibawah bendera Prudential corporation. Jadi, otomatis saya juga sangat merekomendasikan bagi anda yang baru mau mulai merintis bisnis di asuransi untuk juga ikut bernaung dibawah bendera Prudential. Atau, paling tidak memilih perusahaan asuransi yang berada dalam jajaran peringkat 5 besar nasional.
Beberapa hari yang lalu saya baru saja bertemu dengan seorang teman lama yang sudah sukses luar biasa. Memiliki perusahaan travel umroh dan haji plus, dengan puluhan cabang dan mitra yang tersebar di Indonesia. Tapi insyaallah dia amanah, karena model bisnisnya bukan berbasis multilevel, sebagaimana yang banyak beredar. Jadi relatif aman, tidak berpotensi muncul kasus seperti “abu tour”, “First Travel”, dan lain sebagainya.
Dalam pertemuan singkat itu dia banyak cerita, bagaimana membangun bisnis, bagaimana potensi penghasilan,  dan bagaimana perputaran uangnya. Sampai kemudian dia juga sekaligus menawarkan untuk ikut joint di bisnisnya, dengan skema “Cabang Mitra”. Hampir mirip-mirip franchise gitu. 
Cerita singkatnya, tawaran ini serius. Dia akan support semua sistemnya, kita di cabang mitra yang jalankan. Modal yang di butuhkan? 100 juta rupiah untuk beli perlengkapan ke dia, masih ditambah biaya awal operasional pendirian; sewa kantor, beli peralatan kantor, gaji bulanan staf kantor, dan beberapa biaya umum untuk memulai sebuah bisnis. Ohya, yang tidak boleh dilupakan adalah, biaya untuk mempersiapkan marketing mitra, meliputi training, dan lain sebagainya.
Taruhlah, modal awal yang dibutuhkan mencapai 125 juta rupiah, ini sudah termasuk paling irit. Sementara pendapatannya, sebagaimana kita tahu hasil bisnis selalu dihitung berdasarkan persentase dari omset. Di bisnis ini, omset dihitung berdasarkan biaya yang harus dibayarkan nasabah untuk berangkat umroh. Taruhlah rata-rata biayanya ada di kisaran 25 juta rupiah per jamaah. Dari nilai 25 juta rupiah tersebut cabang mitra berhak mendapatkan sekitar 3 juta rupiah. Kalau dipersentase sama dengan 12 %. Ini masih pendapatan kotor, karena mesti di bagi lagi dengan alokasi pengambalian modal awal, dan biaya operasional bulanan. Silahkan dihitung sendiri, berapa bersihnya.
Oke, sampai disini kita sudah ketemu hitungan omset dan pendapatannya. Sekarang coba kita bandingkan dengan hitungan pendapatan di bisnis asuransi. Setiap perusahaan asuransi menerapkan perhitungan yang berbeda bagi mitranya. Di Prudential memakai perhitungan seperti ini: 30 % ditahun pertama, ditambah 30% lagi pada tahun kedua, masih ditambah lagi masing-masing 5% pertahun pada tahun ketiga sampai tahun kelima. Cukup? Belum, karena masih ada bonus produksi yangg besarnya bervariasi, antara 20-40 % pertahun. Sudah? Belum, masih ada lagi bonus persistensi yang besarnya juga berbeda setiap tahunnya. Ada lagi namanya overiding bagi mitra yang berhasil menggondol pangkat leader atau manajer, juga masih ada bonus traveling, belum dihitung juga pendapatan dari kontes-kontes yang setiap bulan selalu ada.
Dalam artikel ini saya batasi untuk fokus hanya pada pendapatan dari sisi bonus reguler saja. Besarnya masih ingat? 30 + 30 + 5 + 5 + 5 selama 5 tahun, semuanya dalam persen. Kalau bisnis travel umroh, omset di hitung dari jamaah, kalau toko kelontong omset dihitung dari berapa banyak barang yang terjual, di Prudential sama saja, omset juga di hitung dari berapa banyak nasabah yang berhasil didapatkan. Mau bisnis apapun, omset selalu dihitung dari berapa banyak barang atau jasa yang berhasil dijual. Karena itulah, builshit mereka yang menawarkan bisnis tanpa jualan.
Prudential memililki perhitungan omset sebagai berikut: premi yang dibayarkan oleh nasabah dalam 1 tahun, itulah yang menjadi omset kita. Misalkan saja saya mendapatkan 1 nasabah dengan premi 12 juta, maka ya 12 juta itulah omset saya. 
Saya tahu, pasti ada dari anda yang bertanya, “Terus, lha kalau misalkan nasabahnya bayar preminya bulanan bagaimana?”. Pertanyaan yang bagus, Prudential akan tetap menghitung omsetnya 12 juta, walaupun nasabah bayar preminya secara bulanan, yang berarti sebesar 1 juta rupiah per bulan. Perbedaannya hanya di penerimaan komisi, yang nanti akan saya jelaskan.
Kembali lagi, jadi ceritanya saya mendapatkan 1 nasabah dengan premi 12 juta per tahun, maka omset saya otomatis 12 juta juga. Perhitungan komisinya sebagai berikut:
1. 12.000.000 x 30% (tahun 1) = 3.600.000
2. 12.000.000 x 30% (tahun 2) = 3.600.000
3. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 3) = 600.000
4. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 4) = 600.000
5. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 5) = 600.000
nah, sudah kelihatan kan, total komisi atau pendapatan yang kita terima adalah; Rp. 9.000.000,- hebatnya, komisi total sebesar itu berhak kita kantongi dengan hanya sekali kerja, mendapatkan 1 nasabah. Jadi sederhananya, jualan sekali, komisi yang kita terima berkali-kali. Karena omsetnya masih jalan dan dihitung selama 5 tahun.
Kalau nasabahnya bayar tahunan, maka kita menerima komisinya juga tahunan; sebesar 3.600.000 per tahun, berlanjut sampai tahun ke 5, kalau nasabah bayar bulanan, maka kita terima komisinya juga bulanan, dengan perhitungan 3.600.000 : 12 bulan = 300 ribu per bulan, selama 5 tahun juga. Nah, apalagi kalau nasabah bayar sekaligus, atau istilahnya dalam dunia asuransi itu single premi, maka komisi selama 5 tahun itu juga akan dibayarkan sekaligus, sebesar Rp. 9.000.000.
Nah, coba bandingkan dengan bisnis travel umroh misalnya, kalau dalam 1 tahun saya berhasil mendapatkan 100 jamaah, pendapatan yang saya terima; 100 x 3.000.000 = 300.000.000.
Di Prudential kalau saya berhasil mendapatkan 100 nasabah dengan premi seperti contoh diatas dalam 1 tahun, komisi yang saya terima pada tahun berjalan adalah; 100 x 3.600.000 = 360.000.000 rupiah. 
Sedangkan saya masih menerima komisi lagi selama 5 tahun ke depan, di bisnis travel umroh komisinya sudah selesai sekali saja.
Ini belum hitungan bonus, yang akan saya tulis di artikel berikutnya. Belum dihitung modal yang harus dikeluarkan juga. Kata teman saya, “Kamu tidak akan bisa punya travel umroh kalau ga bisa sediakan 125 juta, atau minimal 100 juta untuk beli perlengkapan”. Sementara kata Prudential, “Kamu hanya perlu sediakan BBM setiap hari untuk menjalin silaturahmi, dan mulailah melakukan sosialisasi penawaran produk kita”. Jadi, anda pilih mana? 

Atau masih mencari bisnis yang tidak jualan, tidak ngajak-ngajak orang? Bisnis yang ditinggal duduk-duduk santai omsetnya datang sendiri? Ga usah ngapa-ngapain bisa sukses? Kalau memang benar ada bisnis yang seperti itu, tolonglah ajak saya. Saya juga mau. Silahkan kontak saya melalui kolom komentar.