Referensi Memilih Asuransi & Investasi: berita asuransi
Most Popular
Showing posts with label berita asuransi. Show all posts
Showing posts with label berita asuransi. Show all posts

Sunday, 27 January 2019

Inilah Solusi Saat Anda Harus Berhenti Kerja Karena Sakit Ataupun PHK


Hasil gambar untuk polis prudential
Sebuah pertanyaan menarik sempat viral di media sosial, bisakah orang hidup tanpa asuransi? Jawabannya sederhana, bisa.
Lihat saja orang tua dan kakek-nenek kita, tanpa punya asuransi pun bisa hidup aman dan damai sentosa sampai tua. Juga banyak diantara teman-teman kita yang tidak punya asuransi, tapi sampai hari ini hidup mereka baik-baik saja (kecuali mereka yang kena musibah).
Namun bisakah orang hidup tanpa penghasilan? Jawabannya 90 % tidak bisa. Yang 10 % bisa, tentu saja atas kehendak dan kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
Jika mau, anda boleh mencoba berhenti bekerja selama satu bulan saja. Atau kembalikan seluruh gaji ke bos anda. Tentunya anda akan bingung dari mana uang untuk membiayai beragam kebutuhan hidup, seperti makanan, pakaian, bayar listrik, beli pulsa, cicil KPR, utang kendaraan, bayar SPP sekolah anak, dan lain lain.
Bisakah kebutuhan-kebutuhan hidup itu berhenti? Sangat bisa, jika kita sudah tidak adalagi di dunia ini. Ya, benar sekali semua kebutuhan hidup itu hampir tidak bisa berhenti sama sekali. Apalagi sekarang kita hidup dijaman yang serba uang.
Kita butuh makan dan minum setiap hari. Kita butuh pulsa, listrik, bensin setiap hari. Utang, jika telah dibuat, harus dibayar apa pun yang terjadi. Dan semua itu dibayar dari penghasilan.
Lalu, bisakah penghasilan kita berhenti? Sangat bisa. Tentu saja jika kita berhenti bekerja, penghasilan kita pun juga akan berhenti. Kecuali, jika kita telah memiliki aset besar yang memberikan kita passive income dalam jumlah yang cukup untuk membiayai hidup kita. Namun, orang seperti ini pasti jumlahnya juga tidak banyak didunia ini.
Sudah tahukah kita, apa saja yang membuat kita berhenti bekerja? Jawabannya ada beberapa faktor:
  • Dipecat/PHK
  • Pensiun
  • Sakit berat.
  • Cacat tetap.
  • Meninggal dunia.

Lantas, apa solusi untuk semua penyebab tersebut? Dipecat/PHK, solusinya adalah mencari pekerjaan atau bisnis lain. Jika pensiun, solusi paling masuk akal adalah hidup dengan biaya dari hasil tabungan atau investasi semasa kita masih produktif dan bekerja, namun sekali lagi orang jenis ini jumlahnya juga tidak banyak. Yang banyak terjadi adalah bergantung pada kebaikan hati sang anak dalam merawat orang tua.
Sakit berat, tidak ada solusi jika terlanjur sudah terlanjur kejadian, Cacat tetap juga sama, tidak ada solusi jika terlanjur sudah terjadi. Tidak akan ada perusahaan atau orang yang mau mempekerjakan orang yang menderita penyakit berat atau cacat tetap. Termasuk meninggal dunia, juga tidak ada solusi jika terlanjur kejadian, karena orang yang sudah meninggal dunia tentu saja sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Sadarkah kita, point-point diatas tersebut dampak kerugiannya sungguh luar biasa bagi kehidupan kita, terutama kehidupan orang-orang yang selama ini nafkahnya menjadi tanggungan dan kewajiban kita. Keluarga, istri dan anak yang masih tetap harus melanjutkan hidupnya, dan juga dengan kebutuhan akan biaya hidup yang tidak mungkin berhenti dengan berhentinya pekerjaan dan penghasilan kita.
Namun, untuk semua point tersebut diatas, selama masih belum terjadi, tentu saja ada solusi yang bisa kita persiapkan jauh sebelumnya. Solusi paling murah dan masuk akal adalah membeli asuransi dan memulai investasi.
Asuransi tidak bisa mencegah datangnya sakit kritis atau cacat tetap, juga tidak bisa mengembalikan nyawa orang yang telah meninggal dunia, namun asuransi penyakit kritis bisa memberikan santunan penghasilan saat seorang nasabah terkena resiko sakit berat, asuransi kecelakaan dan cacat tetap total juga akan memberikan santunan pengganti penghasilan ketika resiko cacat tetap terjadi pada nasabah. Asset hingga milyaran juga akan diberikan sebagai santunan kepada ahli waris saat seorang peserta asuransi jiwa meninggal dunia. Dan, dengan memulai berinvestasi sejak dini, kita akan memiliki bekal keuangan yang cukup ketika suatu saat dengan terpaksa kita harus berhenti bekerja. Entah karena PHK ataupun pensiun.
Kabar baiknya adalah, anda tidak perlu pusing dan ribet dengan membeli satu per satu program-program tersebut. Cukup satu produk, karena kesemuanya tersedia dalam produk unitlink Prudential. 1 polis untuk semua manfaat perlindungan asuransi, sekaligus potensi keuntungan investasi.


Thursday, 17 January 2019

Pilih Mana; Asuransi Atau Investasi? Sebuah Pengantar



Pernah mendengar istilah-istilah berikut ini; investasi? Asuransi? Tahu dan fahamkah anda bagaimana perbedaan diantara keduanya?
Pernah mengenal istilah-istilah berikut ini; saham? Reksadana? Unitlink? Tahu dan fahamkah anda bagaimana ketiganya berbeda, dan bahkan seringkali diperdebatkan dalam forum-forum komentar social media?
Ada banyak orang yang hanya mengenal atau bahkan hanya pernah mendengar istilah-istilah tersebut diatas, atau mungkin memahami hanya sekedarnya saja. Memahami hanya pada bagian kulit luarnya saja, tidak secara utuh. Bahkan meskipun itu seorang agen asuransi, atau pialang saham, ataupun juga agen reksadana.
Bahwa seorang agen asuransi memahami produk asuransinya, itu adalah sebuah keniscayaan. Bahwa seorang pialang saham sangat hafal seluk belu persahaman adalah benar, dan bahwa seorang agen reksadana mampu menjelaskan secara detil portofolio reksadananya itu adalah wajar. Tetapi tidak banyak orang yang mampu memahami ketiganya sekaligus.
Dan inilah yang menjadi masalah sehingga memicu perdebatan. Agen reksadana dan pialang saham akan dengan sangat menggebu-gebu menyatakan, “Jangan taruh uangmu di asuransi, rugi!”.
“Lebih baik taruh di reksadana bla..bla..bla.., dalam jangka waktu sekian tahun pasti sudah untung sekian belas persen”, kata agen reksadana.
“Mending belikan saham A… atau saham B… atau sekaligus saham C…, nanti dalam kurun waktu tertentu pasti nilainya sudah berlipat-lipat kali naik”, tukas pialang saham.
Ketika terjadi perdebatan seperti itu, apa kata agen asuransi? “Ya meskipun untung, tapi kan belum aman dari resiko sakit,, kecelakaan,, bla..-bla… bla… malah-malah gimana kalau harga saham dan reksadananya jatuh, terus kamu nya kena serangan jantung, uang mana lagi yang mau dipakai buat biaya berobat?.
Itulah agen asuransi, jawabnya betul, tetapi keluar dari substansi. Masalah investasi tentu saja jawabnya juga harus berdasarkan investasi juga. Nah, ini jadi masalah selanjutnya; tidak banyak agen asuransi yang memahami dan menguasai ilmu perinvestasian.
Padahal produk asuransi sekarang ini yang lagi marak adalah produk asuransi unitlink. Sebuah produk yang memadukan antara proteksi asuransi dengan keuntungan berinvestasi. Sayangnya, masih banyak agen asuransi yang hanya memahami pada bagian asuransi nya saja, pada bagian investasi yang difahami hanya sekedarnya saja.
Masalah selanjutnya lagi adalah, justru banyak terjadi diantara agen asuransi sendiri yang berdebat, baik agen asuransi dalam satu perusahaan maupun agen antar perusahaan asuransi. “Apakah asuransi bisa menguntungkan sencara investasi?” jawabannya bervariasi, tergantung bagaimana tingkat pemahaman agen yang bersangkutan terhadap ilmu perinvestasian. Dan jawaban ini bisa anda simak di kolom-kolom komentar media social, dan hasilnya adalah; perdebatan yang tiada henti dan tiada solusi. Semakin kita mengikuti perdebatan, semakin kita akan dibuat bingung dan galau, “Beli asuransi aman gak ya, untuk menyiapkan perencanaan keuangan masa depan?”
Dan pada bagian inilah yang akan dibidik oleh artikel ini. Bagaimana memahami asuransi dan investasi? Bagaimana membedakan dan bahkan mengelola asuransi (unitlink) sebagaimana mengelola portofolio reksadana dan saham untuk mempersiapkan keuangan dimasa depan?
Namun, karena artikel ini pasti akan jadi sangat panjang, maka agar tidak terlalu panjang, artikel ini akan dibuat secara berseri, dengan masing-masing judul yang berbeda, dalam tema besar; “Bagaimana meraih keuntungan di masa depan dengan berinvestasi di unitlink, sebagaimana untung nabung saham dan reksadana”. bersambung

Friday, 21 December 2018

Togar: Unitlink Disebut Instrumen Investasi Produk Asuransi Jiwa Konvensional Makin Ditinggalkan



Produk asuransi konvensional tampaknya bakal semakin ketinggalan. Perlahan-lahan masyarakat mulai beralih ke unitlink atau produk asuransi berbalut investasi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, di kuartal III/2018 perolehan premi secara industri mencapai Rp 141,14 triliun. Ketua Bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Maryoso Sumaryono mengatakan, hingga akhir tahun perolehan premi diprediksikan mencapai Rp 221,19 triliun atau naik hingga 14,4 persen.
Data AAJI juga menunjukkan prediksi perolehan premi industri asuransi jiwa pada 2019 bakal mencapai Rp 257,38 triliun. Rinciannya, premi unitlink diprediksi mencapai Rp 131,16 triliun, dan premi tradisional mencapai Rp 126,51 triliun.
Direktur Eksekutif AAJI, Togar Pasaribu mengatakan, hingga saat ini unitlink masih menjadi produk yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat.
“Masyarakat kita itu cenderung memandang polis asuransi jiwa unitlink sebagai instrumen investasi, yang dapat mereka nikmati pada saat mereka pensiun atau tidak lagi produktif. Sehingga di masa tuanya, mereka masih memiliki tabungan,” katanya.
Tumbuh positif
Tren pertumbuhan premi unitlink juga terjadi pada PT Asuransi Allianz Utama Indonesia. Direktur Allianz Life Indonesia, Meylindawati mengatakan, hingga Oktober 2018, perusahaannya mencatatkan pertumbuhan positif atas perolehan premi produk unitlink Allianz.
Menurut dia, kenaikan premi unitlink Allianz selaras dengan bisnis asuransi yang terus bertumbuh, terutama melalui kanal distribusi agensi dan bancassurance.
“Per Oktober 2018, perolehan premi unit link Allianz mencapai Rp 5,87 triliun, atau naik sebesar 26,25 persen secara year on year (yoy),” jelasnya.
Agak berbeda, PT Asuransi Jiwa BCA atau BCA Life masih fokus menggarap produk asuransi jiwa tradisional. Hingga Oktober 2018, perusahaan mencatatkan perolehan premi mencapai Rp 524,23 miliar, atau naik 29 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar Rp 405,53 miliar.
Lely Pekih, Head of Department Marketing Communication BCA Life, menyatakan, kenaikan jumlah premi tersebut disumbang dari produk asuransi tradisional.
BCA Life memiliki multichannel distribusi pemasaran bisnis, antara lain telemarketing, bancassurance, credit life, dan corporate solution.
"Perusahaan juga mencatat hingga Oktober 2018 total klaim dan manfaat yang telah dibayarkan BCA Life sebesar Rp 127,95 miliar. Jumlah itu meningkat 53,7 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, yaitu Rp 83,23 miliar," terangnya.

*Artikel Asli dari Tribunjateng.com 

Monday, 17 December 2018

Tantangan Asuransi Syariah di Tengah Rendahnya Penetrasi Pasar



Tahun 2017, penetrasi keuangan syariah di Indonesia diperkirakan baru sekitar 6% untuk asuransi dari keseluruhan pengguna jasa keuangan yang ada. Sementara itu di tahun yang sama, pemerintah Indonesia telah mengesahkan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) untuk meningkatkan peran Indonesia sebagai pusat industri keuangan syariah secara global.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun lalu juga meluncurkan roadmap yang dirancang untuk menciptakan industri layanan keuangan syariah yang berkesinambungan sehingga dapat bersaing dengan layanan keuangan konvensional di Indonesia.
Fitri Lindawati Lubis, Head of Fixed Income Allianz Life Indonesia,mengatakan, sebagai salah satu investor dalam industri keuangan syariah harus memperhatikan tantangan dalam membeli aset yang sesuai dengan prinsip syariah. “Kami harus memastikan aset tersebut memenuhi persyaratan sesuai fatwa dari Dewan Syariah Nasional. Selain isu ketersediaan  aset pada saat pembelian, investor juga harus memastikan bahwa likuiditas setelah pembelian aset tersebut tersedia di pasar. Peraturan dari regulator (OJK) juga diharapkan akan mendukung proses pembelian aset tersebut,” kata Fitri.
Di dalam acara ini, pembahasan yang tak kalah menarik adalah mengenai tantangan yang dihadapi dalam upaya mengembangkan keuangan syariah di Indonesia, termasuk di dalamnya mengenai pangsa pasar yang besar, pilihan produk yang terbatas dan kebutuhan untuk meningkatkan literasi keuangan syariah. Selain itu peran fintech yang terus berkembang juga tidak bisa diabaikan untuk menjadi pertimbangan semua pihak untuk mengembangkan dan meningkatkan industri keuangan syariah di Indonesia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Fitri mengatakan, pihaknya mengeluarkan produk asuransi jiwa dan kesehatan syariah. “Selain itu kami juga melakukan beberapa strategi untuk meningkatkan penetrasi produk keuangan syariah. Salah satunya melalui sosialisasi dan edukasi produk asuransi syariah. Kami juga bekerjasama dengan Masyarakat Ekonomi Syariah secara rutin ke berbagai daerah di Indonesia.
Pasar milenial juga menjadi salah satu fokus strategi bisnis Allianz Syariah. Mulai tahun 2018 ini, Allianz Syariah mengampanyekan “Syariah is Now” untuk mengembangkan jaringan pemasarannya dengan perekrutan terhadap generasi milenial yang berminat mengembangkan kemampuan kewirausahaan. Sementara langkah yang dilakukan adalah dengan mengadakan sosialisasi mengenai asuransi syariah secara rutin terutama ke kampus-kampus dan membuka akses seluas-luasnya bagi para milenial yang ingin memperdalam pemahaman mengenai asuransi syariah.
Srikandi Utami, Managing Director Sharia Allianz Life Indonesia, menjelaskan upaya yang telah dilakukan adalah untuk memaksimalkan strategi bisnis khususnya unit bisnis syariah. “Untuk mendukung tujuan memperkuat posisi di dalam potensi segmen pasar milenial, Allianz Life Syariah memiliki keselarasan strategi dengan Allianz Life konvensional dalam memberikan fasilitas pelayanan berbasis digital baik kepada mitra bisnis dan nasabah. Beberapa inisiatif yang sudah dilakukan adalah dengan menyediakan platform layanan pengajuan asuransi, pelayanan terkait informasi polis dan klaim yang dapat dilakukan secara online,” ujarnya. Ke depan, Allianz Life Syariah akan berfokus pada edukasi dan sosialisasi terhadap generasi milenial.

*Berita Asli dari swa.co.id

Masuki Libur Akhir Tahun, Adira Insurance Tawarkan Asuransi Bagi Traveller



MENJELANG libur akhir tahun, para traveller tentunya sudah mulai menyusun rencana liburan mereka. Bahkan ada yang sudah merencanakannya jauh-jauh hari, 2 atau 3 bulan sebelumnya.
Namun di balik nikmatnya jalan-jalan tersebut, ada risiko yang kemungkinan terjadi selama liburan. Salah satu risikonya adalah kecelakaan.
Menurut data Korlantas Polri, sepanjang 2017 terjadi 105.603 kali kecelakaan lalu lintas dengan 31.312 korban jiwa dan luka berat sebanyak 15.586 orang.
Untuk meminimalisir risiko tersebut, perlindungan asuransi bisa menjadi solusinya.
Digital Business Division Head PT. Adira Insurance Jonathan David Nandana mengatakan, Adira Insurance memiliki produk asuransi perjalanan Travellin yang bisa memberikan perlindungan bagi para traveller.
Dengan Travellin, kata dia, traveller dapat menikmati keuntungan berupa premi yang dihitung harian traveller tidak mesti membeli asuransi secara paketan apabila hanya bepergian dalam jangka waktu pendek.
"Hal lain yang menarik bagi traveller yang suka bepergian ke luar negeri adalah Travellin sudah memenuhi persyaratan visa Schengen, dan juga call center-nya yang bisa dihubungi 24 jam," kata Jonathan David, Senin (11/15/2018).
Travellin juga memiliki dua jenis varian, yakni perlindungan untuk perjalanan keluar negeri (internasional) dan perjalanan di dalam negeri (domestik).
"Nah, bagi yang mengkhawatirkan risiko kecelakaan, salah satu perlindungan yang diberikan Travellin adalah jaminan atas risiko dalam perjalanan," ungkapnya.
Perlindungan lainnya adalah perawatan medis, ketidaknyamanan dalam perjalanan, bagasi dan barang pribadi, personal liability dan jaminan tambahan lainnya.
Harga preminya juga cukup terjangkau, yakni Rp 10.000 per hari untuk Travellin domestik dan Rp 19.000 per hari untuk Travellin internasional.
Untuk memudahkan traveller mendapatkan Travellin, menurut Jonathan, traveller dapat langsung mengakses website asuransiadira.com dan travellin.co.id.
Khusus untuk travellin.co.id, dapat dipergunakan dengan mudah oleh travel agen serta e-commerce rekanan yang dapat diintegrasikan menggunakan koneksi API (Application Programming Interface).
Layanan yang tersedia dalam website travellin.co.id adalah layanan pembelian, pembayaran, hingga klaim saat ini sudah dapat dilakukan oleh pelanggan dengan menggunakan platform tersebut. Per Oktober 2018 platform digital travellin.co.id secara akumulatif sudah melayani lebih dari 95.000 pelanggan dengan total premi lebih dari Rp. 5 miliar
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Masuki Libur Akhir Tahun, Adira Insurance Tawarkan Asuransi Bagi Traveller, http://wartakota.tribunnews.com/2018/12/11/masuki-libur-akhir-tahun-adira-insurance-tawarkan-asuransi-bagi-traveller.

*Berita Asli dari wartakota.tribunnews.com

Asuransi Tugu Pratama Siapkan Ekspansi Bisnis Segmen Retail pada 2019

Keseriusan Tugu Pratama menggarap segmen ritel mendapat respon positif yang tercermin dari kenaikan harga saham TUGU sebesar 5% dalam sebulan terakhir.
Asuransi Tugu Pratama terus berupaya mengembangkan lini produk dan layanan ekspansi ke pasar ritel. Presiden Komisaris Tugu Pratama yang baru saja terpilih menggantikan Presiden Komisaris sebelumnya Arief Budiman, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung hari ini, Kamis (6/12), Koeshartanto, menyatakan akan secara serius menggarap bisnis ritel ini dan melakukan penguatan di bisnis yang sudah eksisting di segmen korporasi.
Presiden Direktur Tugu Pratama Indra Baruna mengatakan, mereka akan meluncurkan beberapa produk asuransi ritel dengan biaya yang terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. "Dengan demikian seluruh masyarakat bisa menikmati keuntungan dalam berasuransi. Kami berharap, dalam waktu dekat akan memperkenalkan beberapa produk ritel baru dengan mengajukan izin kepada OJK selaku regulator," papar Indra melalui siaran resmi yang didapat Katadata.co.id, Kamis (6/12).
Salah satu produk yang akan segera diluncurkan anak usaha PT Pertamina (Persero) ini yaitu asuransi perjalanan domestik dan internasional yang bernama T Travella. Tugu Pratama juga akan segera memperkenalkan produk ritel lainnya dalam waktu dekat.
Untuk memperkuat operasional dan marketing bisnis ritelnya, Indra mengungkapkan Tugu Pratama akan menambah sejumlah jaringan kantor cabang dan point of sales and services (POSS). Menurut Indra, potensi pasar asuransi ritel di Indonesia masih sangat besar. "Karena itu kami akan terus menggenjot segmen ini yang sudah dilakukan sejak pertengahan 2018," ujarnya.
Indra menyampaikan, konsistensi perusahaan untuk masuk ke bisnis ritel mendapat respon positif dari pemegang saham. Terbukti, harga saham perusahaan asuransi yang berkode emiten TUGU ini melonjak hingga 5& dalam sebulan terakhir ini, yaitu dari Rp3.210 per saham pada 5 November 2018 menjadi Rp3.370 per saham pada 3 Desember 2018.
Hingga bulan Oktober 2018, Tugu Pratama telah mengantongi pendapatan premi bruto sebesar US$ 155,84 juta atau naik 18,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 131,93 juta. Segmen ritel yang lebih serius digarap turut mendorong pertumbuhan pendapatan premi Tugu Pratama.

*Berita Asli dari katadata.co.id