Referensi Memilih Asuransi & Investasi: agen asuransi
Most Popular
Showing posts with label agen asuransi. Show all posts
Showing posts with label agen asuransi. Show all posts

Tuesday, 25 September 2018

Berapa Lama Saya Harus Membayar Premi Asuransi?


"Berapa lama saya harus membayar premi asuransi? Sampai kapan saya harus setor premi asuransi saya?"

Kalau anda seorang agen asuransi anda pasti sering menemui pertanyaan seperti itu. Atau kalau anda adalah orang yang pernah di prospek oleh agen asuransi, pertanyaan ini juga pasti menjadi semacam pertanyaan yang wajib anda tanyakan. Dari perusahaan manapun agen asuransi tersebut berasal. Bahkan seandainya anda di prospek oleh 5 orang agen pun, tetap pertanyaan itu akan selalu anda ulangi, meskipun kelimanya bahkan berasal dari perusahaan asuransi yang sama. Celakanya, anda akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda, tergantung siapa yang menjawab.
Soal jawaban sih tidak begitu menjadi masalah, yang jadi persoalan justru fakta  dalam praktik yang sebenarnya. Persoalan berapa lama atau sampai kapan premi asuransi itu harus dibayar berubah menjadi seperti sebuah misteri yang lumayan sulit untuk dipecahkan. Agen A bilang, “Cukup bayar selama 10 tahun, setelah itu silahkan uang diambil atau dicairkan, dan manfaat asuransi akan tetap jalan seumur hidup” Benarkah? Bisa benar, bisa tidak. Sementara itu, agen B berkata, “Bayar asuransi itu selamanya, pokoknya kalau anda beli asuransi jangan mikir investasi. Syukur-syukur kalau selesai bayar ada nilai tunai yang bisa diambil, berarti anda termasuk nasabah yang beruntung”. Wah, kok jadi menakutkan gini ya si asuransi.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengatakan apakah jawaban-jawaban tersebut benar atau salah. Karena ketika dilapangan, seorang agen memang memiliki bahasa khas marketingnya masing-masing. Ini sangat terkait dengan style dari masing-masing agen dalam menghandle pertanyaan-pertanyaan dari calon nasabah yang di prospeknya.
Saya justru ingin menawarkan sebuah “cara baca” yang baru terhadap sebuah proposal dari polis asuransi. Saya berharap, cara baru dalam membaca dan memahami hakekat sebuah polis asuransi ini nantinya akan membawa sebentuk perubahan juga dalam konsep literasi keuangan kita. Bukan suatu kebetulan bahwa saya adalah Agen Prudential, sehingga saya juga akan menggunakan ilustrasi atau proposal dari Prudential sebagai pijakan dalam tulisan ini.
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita samakan dulu perspektif kita dalam memahami polis asuransi yang di maksud dalam tulisan ini. Yang saya maksudkan sebagai polis asuransi dalam tulisan ini tentu saja adalah polis asuransi unit link; sebuah polis asuransi yang berfungsi sebagai proteksi, sekaligus sebagai instrument investasi. Beberapa teman agen mungkin akan protes, “Mau unit link atau tradisional sebaiknya jangan pernah gembar-gembor jualan investasi kepada calon nasabah”. Teman ini mungkin bagian dari agen yang berpandangan bahwa fungsi utama sebuah polis asuransi adalah sebagai proteksi, instrument investasi hanya sebagai pemanis saja.
Dalam hal ini saya kurang sepakat, toh perusahaan sendiri dalam promosi nya juga tidak pernah melepaskan kata investasi sebagai tawarannya. Artinya, asalkan difahami dengan cara yang benar, polis asuransi memang benar-benar bisa difungsikan sebagai sebuah instrument investasi, dalam rangka mempersiapkan kebutuhan keuangan di masa depan.
Nah, dalam kerangka inilah sesungguhnya tulisan ini dibuat. Menurut saya, cara memahami pembayaran premi asuransi adalah seperti ini; bahwa sesungguhnya premi asuransi itu dibayar selamanya, sampai kapan? Sampai kita tutup polis karena tidak membutuhkan asuransi lagi, atau sampai kita tutup polis karena maut menjemput. “Wah, berabe dong kalau seperti itu?” tenang, justru disinilah yang ingin saya jelaskan.
Asuransi unit link, berbeda dengan jenis asuransi lainnya. Semisal sebagai contoh paling gampang adalah BPJS. Asuransi unit link jelas mengandung instrument investasi, artinya selain memiliki nilai perlindungan dalam bentuk Uang Pertanggungan (UP) meninggal dunia serta UP kesehatan, nasabah juga memiliki saldo investasi, yang di kelola oleh manajer investasi dari perusahaan asuransi yang bersangkutan. Berbeda dengan BPJS Kesehatan, yang hanya memiliki proteksi kesehatan, tanpa saldo nilai tunai.
Terus apakah setelah habis kontrak, investasi saya di asuransi bisa saya ambil? Dan apakah saya untung atau rugi berdasarkan jumlah premi yang saya setorkan dalam kurun waktu tersebut?
Tentu saja sangat bisa. Tetapi ingat, saya tidak mengatakan bahwa kontrak asuransi itu adalah selama 10 tahun, 20 tahun atau 30 tahun, sebagaimana selama ini agen asuransi sering katakan. Kontrak asuransi adalah selamanya, atau selama anda butuh terhadap polis asuransi tersebut. Saldo investasinya boleh anda ambil setiap 5 tahun sekali, atau 10 tahun sekali, atau sesuai kebutuhan. Yang terpenting dan perlu diperhatikan dalam pencairan ini adalah, upayakan sedapat mungkin agar mencairkan saldo nilai tunai untuk pertama kalinya bukan pada usia belum genap 5 tahun. Artinya anda boleh melakukan pencairan saldo nilai tunai untuk pertama kalinya adalah setelah tahun ke 5, atau ketika masuk tahun ke 6. Pencairan selanjutnya kapan? Tentu saja menunggu setelah nilai tunai terkumpul lagi, sewaktu-waktu boleh anda cairkan. Jadi, misalkan pun anda bayar premi asuransi selama 30 tahun pun, anda bisa berulang kali ambil saldo nilai tunainya sesuai kebutuhan, asalkan pengambilan pertama kali setelah tahun ke 5. Atau boleh juga dicairkan kelak, ketika saldonya sudah menumpuk banyak.
Apakah untung atau rugi? Ini yang paling sulit. Karena ini adalah instrument investasi. Namanya investasi bisa untung bisa rugi. Mungkin untung di saat harga unit sedang bagus dibandingkan dengan IHSG, rugi ketika harga unit sedang dalam keadaan terpuruk. Terus bagaimana dong? Ya, kalau pas posisi rugi jangan dicairkan, tunggu dulu sampai untung. Posisi ini bisa di pantau kok, sangat mudah malahan. Anda bisa memantaunya melalui media online terpercaya yang menampilkan data-data pasar modal, seperti kontan online, dan beberapa majalah keuangan online lainnya.
Terus, kalau sudah ditunggu ternyata gak untung-untung juga? Itulah makanya kenapa anda harus memilih membuka polis di perusahaan asuransi besar, yang memiliki kinerja terbaik di Indonesia. Agar dana anda aman, dan untung. Sampai disini, tidak usah saya katakana pun anda pasti sudah mengerti harus buka polis di perusahaan merah atau abu-abu.

Jika ada sesuatu yang perlu di diskusikan, silahkan, saya sangat terbuka dengan kritik dan saran di kolom komentar.

Sunday, 23 September 2018

Adakah Bisnis Modal 0 Rupiah? Cari Tahu Disini


Anda tahu, kenapa membangun bisnis didunia asuransi itu mudah? Karena hanya modal “mulut” saja kita bisa membangun bisnis beromset milyaran, dan dalam sekejap. Apapun itu merk asuransinya, asalkan fundamental perusahaan asuransinya memang kuat. Kebetulan saya sendiri berada dibawah bendera Prudential corporation. Jadi, otomatis saya juga sangat merekomendasikan bagi anda yang baru mau mulai merintis bisnis di asuransi untuk juga ikut bernaung dibawah bendera Prudential. Atau, paling tidak memilih perusahaan asuransi yang berada dalam jajaran peringkat 5 besar nasional.
Beberapa hari yang lalu saya baru saja bertemu dengan seorang teman lama yang sudah sukses luar biasa. Memiliki perusahaan travel umroh dan haji plus, dengan puluhan cabang dan mitra yang tersebar di Indonesia. Tapi insyaallah dia amanah, karena model bisnisnya bukan berbasis multilevel, sebagaimana yang banyak beredar. Jadi relatif aman, tidak berpotensi muncul kasus seperti “abu tour”, “First Travel”, dan lain sebagainya.
Dalam pertemuan singkat itu dia banyak cerita, bagaimana membangun bisnis, bagaimana potensi penghasilan,  dan bagaimana perputaran uangnya. Sampai kemudian dia juga sekaligus menawarkan untuk ikut joint di bisnisnya, dengan skema “Cabang Mitra”. Hampir mirip-mirip franchise gitu. 
Cerita singkatnya, tawaran ini serius. Dia akan support semua sistemnya, kita di cabang mitra yang jalankan. Modal yang di butuhkan? 100 juta rupiah untuk beli perlengkapan ke dia, masih ditambah biaya awal operasional pendirian; sewa kantor, beli peralatan kantor, gaji bulanan staf kantor, dan beberapa biaya umum untuk memulai sebuah bisnis. Ohya, yang tidak boleh dilupakan adalah, biaya untuk mempersiapkan marketing mitra, meliputi training, dan lain sebagainya.
Taruhlah, modal awal yang dibutuhkan mencapai 125 juta rupiah, ini sudah termasuk paling irit. Sementara pendapatannya, sebagaimana kita tahu hasil bisnis selalu dihitung berdasarkan persentase dari omset. Di bisnis ini, omset dihitung berdasarkan biaya yang harus dibayarkan nasabah untuk berangkat umroh. Taruhlah rata-rata biayanya ada di kisaran 25 juta rupiah per jamaah. Dari nilai 25 juta rupiah tersebut cabang mitra berhak mendapatkan sekitar 3 juta rupiah. Kalau dipersentase sama dengan 12 %. Ini masih pendapatan kotor, karena mesti di bagi lagi dengan alokasi pengambalian modal awal, dan biaya operasional bulanan. Silahkan dihitung sendiri, berapa bersihnya.
Oke, sampai disini kita sudah ketemu hitungan omset dan pendapatannya. Sekarang coba kita bandingkan dengan hitungan pendapatan di bisnis asuransi. Setiap perusahaan asuransi menerapkan perhitungan yang berbeda bagi mitranya. Di Prudential memakai perhitungan seperti ini: 30 % ditahun pertama, ditambah 30% lagi pada tahun kedua, masih ditambah lagi masing-masing 5% pertahun pada tahun ketiga sampai tahun kelima. Cukup? Belum, karena masih ada bonus produksi yangg besarnya bervariasi, antara 20-40 % pertahun. Sudah? Belum, masih ada lagi bonus persistensi yang besarnya juga berbeda setiap tahunnya. Ada lagi namanya overiding bagi mitra yang berhasil menggondol pangkat leader atau manajer, juga masih ada bonus traveling, belum dihitung juga pendapatan dari kontes-kontes yang setiap bulan selalu ada.
Dalam artikel ini saya batasi untuk fokus hanya pada pendapatan dari sisi bonus reguler saja. Besarnya masih ingat? 30 + 30 + 5 + 5 + 5 selama 5 tahun, semuanya dalam persen. Kalau bisnis travel umroh, omset di hitung dari jamaah, kalau toko kelontong omset dihitung dari berapa banyak barang yang terjual, di Prudential sama saja, omset juga di hitung dari berapa banyak nasabah yang berhasil didapatkan. Mau bisnis apapun, omset selalu dihitung dari berapa banyak barang atau jasa yang berhasil dijual. Karena itulah, builshit mereka yang menawarkan bisnis tanpa jualan.
Prudential memililki perhitungan omset sebagai berikut: premi yang dibayarkan oleh nasabah dalam 1 tahun, itulah yang menjadi omset kita. Misalkan saja saya mendapatkan 1 nasabah dengan premi 12 juta, maka ya 12 juta itulah omset saya. 
Saya tahu, pasti ada dari anda yang bertanya, “Terus, lha kalau misalkan nasabahnya bayar preminya bulanan bagaimana?”. Pertanyaan yang bagus, Prudential akan tetap menghitung omsetnya 12 juta, walaupun nasabah bayar preminya secara bulanan, yang berarti sebesar 1 juta rupiah per bulan. Perbedaannya hanya di penerimaan komisi, yang nanti akan saya jelaskan.
Kembali lagi, jadi ceritanya saya mendapatkan 1 nasabah dengan premi 12 juta per tahun, maka omset saya otomatis 12 juta juga. Perhitungan komisinya sebagai berikut:
1. 12.000.000 x 30% (tahun 1) = 3.600.000
2. 12.000.000 x 30% (tahun 2) = 3.600.000
3. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 3) = 600.000
4. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 4) = 600.000
5. 12.000.000 x 5%.   (Tahun 5) = 600.000
nah, sudah kelihatan kan, total komisi atau pendapatan yang kita terima adalah; Rp. 9.000.000,- hebatnya, komisi total sebesar itu berhak kita kantongi dengan hanya sekali kerja, mendapatkan 1 nasabah. Jadi sederhananya, jualan sekali, komisi yang kita terima berkali-kali. Karena omsetnya masih jalan dan dihitung selama 5 tahun.
Kalau nasabahnya bayar tahunan, maka kita menerima komisinya juga tahunan; sebesar 3.600.000 per tahun, berlanjut sampai tahun ke 5, kalau nasabah bayar bulanan, maka kita terima komisinya juga bulanan, dengan perhitungan 3.600.000 : 12 bulan = 300 ribu per bulan, selama 5 tahun juga. Nah, apalagi kalau nasabah bayar sekaligus, atau istilahnya dalam dunia asuransi itu single premi, maka komisi selama 5 tahun itu juga akan dibayarkan sekaligus, sebesar Rp. 9.000.000.
Nah, coba bandingkan dengan bisnis travel umroh misalnya, kalau dalam 1 tahun saya berhasil mendapatkan 100 jamaah, pendapatan yang saya terima; 100 x 3.000.000 = 300.000.000.
Di Prudential kalau saya berhasil mendapatkan 100 nasabah dengan premi seperti contoh diatas dalam 1 tahun, komisi yang saya terima pada tahun berjalan adalah; 100 x 3.600.000 = 360.000.000 rupiah. 
Sedangkan saya masih menerima komisi lagi selama 5 tahun ke depan, di bisnis travel umroh komisinya sudah selesai sekali saja.
Ini belum hitungan bonus, yang akan saya tulis di artikel berikutnya. Belum dihitung modal yang harus dikeluarkan juga. Kata teman saya, “Kamu tidak akan bisa punya travel umroh kalau ga bisa sediakan 125 juta, atau minimal 100 juta untuk beli perlengkapan”. Sementara kata Prudential, “Kamu hanya perlu sediakan BBM setiap hari untuk menjalin silaturahmi, dan mulailah melakukan sosialisasi penawaran produk kita”. Jadi, anda pilih mana? 

Atau masih mencari bisnis yang tidak jualan, tidak ngajak-ngajak orang? Bisnis yang ditinggal duduk-duduk santai omsetnya datang sendiri? Ga usah ngapa-ngapain bisa sukses? Kalau memang benar ada bisnis yang seperti itu, tolonglah ajak saya. Saya juga mau. Silahkan kontak saya melalui kolom komentar.

Sunday, 16 September 2018

10 Profesi Impian Millenial dengan Gaji Bagus & Tingkat Stres Rendah; No 8 Paling Menarik


Millennial dikatakan lebih rewel dalam urusan pekerjaan. Menurut pakar, banyak dari mereka yang suka tidak sabar dalam membangun karier sehingga mudah pindah kerja. Biasanya millennial mencari profesi yang memberikan penghasilan cukup tinggi namun dengan tingkat stres cenderung rendah. Generasi orang yang tahun ini berusia 19 hingga 35 tahun itu pun mendambakan keseimbangan hidup atau work life balance. Jika Anda salah satunya, sepuluh pekerjaan mungkin jadi profesi impian Anda:
1. Web Developer
Salah satu kelebihan millennial dibanding generasi sebelumnya adalah mereka lebih mengerti gadget dan dunia digital. Untuk itu, web developer bisa menjadi profesi yang patut dipertimbangkan. Apalagi pekerjaan itu menghasilkan gaji yang lumayan namun tingkat stres tergolong sedang.
2. Dokter Gigi
Menjadi dokter menjadi impian banyak millennial. Tapi jika Anda mau kerja di sektor kesehatan tapi dengan tingkat stres lebih rendah, dokter gigi bisa jadi pilihan. Apalagi dokter gigi umumnya tidak terlalu menuntut dedikasi waktu sehingga millennial bisa tetap punya work life balance yang mereka idamkan.
3. Software Developer
Software developer makin banyak dibutuhkan karena hidup manusia yang tidak bisa lepas dari gadget beserta aplikasinya. Karena itu, profesi ini bisa dibilang cukup menjanjikan. Pekerjaan tersebut cukup ideal untuk millennial yang menginginkan kerja tim namun bisa juga bekerja dari rumah.
4. Analis Sistem Komputer
Perkerjaan ini mungkin tidak familiar. Namun profesi tersebut juga cukup dibutuhkan di zaman sekarang. Biasanya analis sistem komputer akan membantu perusahaan meng-install dan meng-upgrade sistem digital baru hingga melatih para pegawai untuk menggunakan sistem tersebut. Butuh ilmu dan kemampuan yang tidak sembarangan bukan tak mungkin profesi ini menghasilkan gaji tinggi idaman millenial.
5. Insinyur Mekanik
Pekerjaan sebagai insinyur mekanik mungkin sering dijauhi orang karena dianggap berat dan sulit. Tapi profesi cocok untuk millennial yang suka mengeksplor kreatifitas dan teknologi, serta suka bekerja tim dan mencari solusi dari suatu masalah. Namun tingkat stres insinyur mekanik lebih tinggi dari pekerjaan sebelumya.
6. Interpreter dan Translator
Berkat internet, banyak millennial di zaman sekarang bisa dengan mudah menguasai banyak bahasa. Jika Anda salah satunya, coba saja bekerja sebagai interpreter dan translator. Selain bisa menghasilkan gaji yang lumayan, Anda bisa mengatur waktu kerja dengan fleksibel.
7. Terapis Radiasi
Terapis ini biasanya berhubungan dengan pasien yang butuh perawatan radiasi. Untuk menjadi terapis radiasi yang baik dibutukan kemampuan dalam hal ketelitian, penggunaan mesin, hingga komunikasi. Pekerjaan itu pun cocok untuk para millennial yang ingin terlibat dalam pekerjaan yang membantu orang tapi tetap menghasilkan.
8. Agen Sales Asuransi
Pekerjaan ini bisa dipilih untuk millennial yang ingin fleksibilitas dalam bekerja. Umumnya agen sales asuransi bisa memilih waktu kerja sendiri sesuai dengan keinginan pribadi dan kebutuhan klien. Dikatakan juga bahwa pekerjaan itu tidak butuh gelar pendidikan tertentu meski memang perlu kursus atau sertifikat kerja khusus.
9. Kartografer
Kartografer juga cukup dibutuhkan di zaman sekarang. Bagiamana tidak, berkat para kartografer Anda bisa dengan mudah menemukan sebuah lokasi melalui peta digital. Umumnya kartografer butuh kemampuan matematika, komputer, dan geografi yang baik jadi memang bisa sedikit lebih rumit. Namun menjadi seorang kartografer memungkinkan Anda untuk mengunjungi berbagai tempat yang menjadi impian millennial.
10. Terapis Pijat
Seperti agen asuransi, pekerjaan ini juga tidak menuntut dedikasi waktu. Anda pun bisa dengan fleksibel mengatur waktu kerja sesuai keinginan sendiri dan kebutuhan klien. Pekerjaan ini cocok bagi millennial yang ingin mencari pekerjaan paruh waktu selagi melanjutkan pendidikan lebih tinggi.

Pilih Agen Asuransi

loading...