Milenial Sebaiknya Baca Artikel Ini; Memulai Investasi Sejak Dini - Referensi Memilih Asuransi & Investasi
Most Popular

Tuesday, 4 December 2018

Milenial Sebaiknya Baca Artikel Ini; Memulai Investasi Sejak Dini

 


Saat mulai browsing, rutinitas pagi hari sambil menyeruput secangkir kopi, saya menemukan sebuah artikel yang lumayan menarik Disini. Isinya tentang pemaparan dan ulasan serta alasan kenapa kaum milenial harus mulai belajar untuk berinvestasi sejak dari sekarang. Investasi, juga proteksi harus dimulai dan dibiasakan sedini mungkin.
Artikel yang berlandaskan pengalaman pribadi penulis ini saya yakin akan mampu menggugah kesadaran dan minat kaum milenial untuk segera memulai berinvestasi. Silahkan dibaca artikelnya saya cantumkan di bawah ini.
________________________________

Sudah Saatnya Kaum Milenial Berinvestasi

Mungkin yang pernah mendengar karier Warren Buffet bisa mengerti apa yang saya kutip di atas. Namanya sih sudah sangat terkenal di mata para pengusaha dan investor global, meskipun mungkin masih agak asing ya di telinga sebagian kaum milenial di Tanah Air.
Warren Buffet ialah Chief Executive Officer (CEO) Berkshire Hathaway, perusahaan investasi yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan ini melakukan investasi di lebih dari 60 perusahaan, termasuk membeli saham perusahaan asuransi Geico, pembuat baterai Duracell, dan jaringan restoran Dairy Queen.
Warren Buffet adalah salah satu investor paling sukses di dunia. Kekayaannya, menurut catatan majalah Forbes, sudah mencapai USD 89,2 miliar atau jika dirupiahkan dengan kurs sekitar Rp14.500 per dolar AS, maka harta kekayaan Warren Buffet nilainya mencapai Rp 1.293 triliun, gede banget.
Jadi, kalau bicara soal investasi, sudah tak diragukan lagi Warren Buffet menjadi salah satu panutan bagi orang-orang yang ingin sukses berinvestasi. Bayangkan saja, dia bahkan sudah terjun berinvestasi sejak usianya 11 tahun, dengan membeli satu saham perusahaan di bursa efek Amerika. Kesadaran berinvestasi sejak belia dan kesuksesannya inilah yang selalu menginspirasi, terutama bagi kita yang ingin memulai investasi dan ingin sukses seperti dia.
Investasi sudah menjadi satu kata yang amat populer belakangan ini, ditandai dengan makin banyaknya orang yang menyadari pentingnya investasi sebagai salah satu cara mengelola keuangan pribadi agar bisa mapan secara finansial. Kini, makin banyak kita temui artikel, topik talkshow di televisi, radio, seminar, workshop, dan perbincangan di ruang-ruang kantor soal investasi. Mulai dari memperkenalkan berbagai jenis investasi seperti emas, deposito, properti, saham, reksa dana, unit link, obligasi negara (ORI dan SBR, dua surat utang pemerintah yang dijual secara ritel buat investor masyarakat seperti kita) atau sekadar berbagi tips berinvestasi.
Kenapa sih investasi menjadi penting?
Jujur, setelah saya mulai memiliki tabungan dari usaha saya, langkah berikut yang saya lakukan adalah memecah portofolio investasi– tidak hanya di usaha saya saja, tetapi juga di tempat lain. Gak usah banyak-banyak, bukan artinya harus belasan juta atau bahkan puluhan juta. Start small aja. Yang penting ada investasi baru yang kita bisa pegang.
Mengapa? Seperti istilah “never put all your eggs in one basket” alias jangan pertaruhkan semua harta dalam satu tempat, saya percaya kita harus membagi risiko tabungan finansial kita. Cari yang bisa menguntungkan walaupun mungkin dalam jangka panjang. Walaupun dalam jumlah kecil, saya rasa perlahan tetapi pasti apabila kita konsisten dalam “menabung” atau berinvestasi, ujung-ujungnya akan berbuah asalkan terus dijaga ya.
Oke, mari lihat gambaran sedikit ya soal data investor di Indonesia. Jumlah investor di Indonesia ini ternyata masih rendah sekali, bisa dibilang jauh dengan negara-negara lain. Saya coba ambil data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia, bahwa jumlah investor di pasar modal baru 1,4 juta orang hingga Agustus 2018. Dengan jumlah penduduk negeri ini yang sudah mencapai 258 juta orang, kebayang kan persentase jumlah investor tadi? Hanya 0,5 persen.
Angka tadi juga amat sangat rendah dibandingkan dengan jumlah penduduk produktif Indonesia yang diprediksi mencapai puncak pada tahun 2030. Kalau kita baca hasil prediksi Badan Pusat Statistik (BPS), kaum muda-lah yang akan dominan di masa mendatang. Sebenarnya sudah terbaca dari data penduduk 2016 di mana dari 258 juta, BPS menyatakan jumlah itu didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-34 tahun.
Hanya saja, tidak mudah menarik minat investasi, apalagi buat kaum milenial. Banyak sekali alasannya, ada yang menunggu sampai punya banyak uang dahulu baru mau jadi investor, padahal enggak harus jadi jutawan dulu untuk memulai investasi. Untuk menjadi investor, yang dibutuhkan selain uang, tentu saja adalah disiplin dan komitmen.
Untuk menjadi investor, yang dibutuhkan selain uang, tentu saja adalah disiplin dan komitmen.
Ada juga yang beralasan, “nanti dulu deh investasinya” atau “boro-boro investasi, bulanan aja kurang." Banyak orang muda yang sehabis gajian, dihabiskan dahulu, baru sisanya ditabung. Padahal ini kebiasaan yang salah di kalangan anak muda. Ada pula yang enggan berinvestasi karena ya terlanjur boros dalam mengeluarkan uang untuk gaya hidup dan ‘terjebak’ bunga utang kartu kredit yang tinggi.
Hasil survei Kompas (April 2017) mengenai karakteristik 300 responden kaum milenial (lahir antara tahun 1982–1995) menunjukkan bahwa kelebihan gaji mereka dialokasikan untuk jalan-jalan, beli pakaian, nongkrong, nonton, belanja makeup, sepatu, hingga modifikasi kendaraan. Bahkan 66 persen menjawab untuk kebutuhan jalan-jalan.
Mungkin hal ini tidak mengagetkan karena biasanya karakter milenial memang tak bisa terlepas dari stereotip ingin eksis, mendapatkan pengakuan, terutama di media sosial. Sebagai seorang milenial (saya lahir di tahun 1987), sebenarnya bukan masalah eksis, tetapi lebih keinginan menjalani hidup to the fullest, menikmati langsung hasil kerja keras.
Kasarnya, Work hard, Play hard. Di zaman dimana media sosial terkadang lebih dipentingkan daripada realita, saya rasa banyak sekali kaum milenial ingin terlibat dan ‘terlihat’, ataupun hanya ingin menikmati apa yang sedang populer dan trendi di saat ini. Tentu zaman ini berbeda dengan apa yang dialami generasi sebelumnya, yaitu gen X (lahir antara 1968 - 1979).
Menurut survei yang dilakukan Opinion Research Corporation (ORC) International – perusahaan riset demografi, kesehatan, dan pasar – pada Juli 2016, gen X lebih suka menabung untuk investasi jangka panjang ketimbang menabung untuk tujuan jangka pendek.
Sebetulnya survei atau hasil riset yang saya sebutkan tadi memang tak bisa sepenuhnya mewakili fakta riil di Indonesia, apalagi survei ORC International sendiri juga dilakukan global, tak hanya Indonesia. Tapi hasil itu setidaknya menjadi gambaran betapa tak mudah menarik minat investasi kaum milenial. Padahal dampaknya bisa sangat mengkhawatirkan buat kaum milenial apabila dijadikan kebiasaan.
Saya sendiri, bersama Ria Sarwono, sahabat saya sejak SMP, yang memulai membangun local fashion brand COTTONINK pada 2008 (dengan bermula dari jualan kaus bergambar muka Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada tahun 2008), juga tidak langsung bisa memiliki investasi. Tetapi kami menyadari pentingnya berinvestasi dan memulainya sedikit demi sedikit, bulan demi bulan.
Belum lagi tingkat inflasi yang pastinya akan mempengaruhi “nilai” dari tabungan kita. Apabila kita tidak melakukan apapun, uang tabungan yang kita miliki sekarang akan makin berkurang “value”-nya. Sebut saja, misalkan harga tiket atau makanan yang sama pasti sudah lebih mahal sekarang daripada 3 tahun lalu.
Pemahaman investasi yang belum mendalam dan meluas di masyarakat Indonesia membuat banyak orang jadi takut dan tidak berani melakukan investasi. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan, saya melihat tendensi informasi mengenai jenis investasi seperti saham, obligasi, reksa dana, deposito, ORI, SBR, unit link, ataupun properti sudah mulai marak di media massa dan media sosial.
Tinggal bagaimana kita memilih investasi yang sesuai dengan tujuan dan kemampuan finansial, karena semua investasi pada prinsipnya punya kelebihan dan keuntungan masing-masing, dengan kadar risiko yang berbeda. Kalau kalian adalah tipe risk taker, bisa pilih investasi dengan return tinggi tapi risiko juga tinggi. Sebaliknya, kalau tipe low risk, pilih saja investasi yang mudah.
Tapi yang perlu diingat, kalian harus waspada atas iming-iming janji investasi yang tinggi dalam jangka pendek, atau penawaran investasi dari perusahaan yang tidak jelas alias bodong. Cek lebih dahulu izinnya di OJK, tercatat atau tidak.
Jangan lupa untuk memproteksi diri dengan asuransi, alih-alih aset yang kita kumpulkan dari berinvestasi malah tergerus beragam risiko yang tidak terlindungi. Produk asuransi unit link seperti PRUlink Generasi Baru atau PRUlink Syariah Generasi Baru dari Prudential juga dapat menjadi pilihan karena memiliki fitur-fitur utama yang inovatif seperti PRUbooster Investasi dan PRUbooster proteksi.
PRUbooster investasi, yang pertama kali di pasar, adalah fitur yang memungkinkan nasabah mendapatkan tambahan alokasi investasi setiap tahunnya sejak premi pertama dibayarkan. Sementara dengan PRUbooster proteksi, nasabah akan dapat memilih agar Uang Pertanggungannya meningkat setiap tahun, tanpa perlu pernyataan kesehatan.
Nah intinya, yuk mulai investasi, jangan menungggu tua dahulu, baru investasi. Selagi masih muda, mulailah mengalokasikan uang untuk berinvestasi. “Never depend on a single income, make an investment to create a second source,” begitu kata Warren Buffet.
_____________________
Mungkin anda tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Prulink Generasi Baru yang sempat disinggung dalam artikel diatas. anda bisa mengetahui lebih jauh dengan mengikuti tautan ini DISINI

No comments:
Write komentar

Silahkan berkomentar dan berdiskusi

Pilih Agen Asuransi

loading...