Apa Itu BPHTB? Anda Wajib Tahu, Setiap Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan; Diwajibkan Membayar BPHTB - Referensi Memilih Asuransi & Investasi
Most Popular

Saturday, 10 November 2018

Apa Itu BPHTB? Anda Wajib Tahu, Setiap Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan; Diwajibkan Membayar BPHTB


BPHTB singkatan dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, yaitu bea yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Dalam bahasa sehari-hari BPHTB dikenal juga sebagai bea pembeli, jikalau perolehannya berdasarkan proses jual beli. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan atau BPHTB ini diatur dalam UU No. 21 Tahun 1997, yang telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2000.
Namun, dalam UU BPHTB, bea ini dikenakan tidak hanya dalam perolehan harta yang berasal dari jual beli. Semua jenis perolehan hak atas tanah dan bangunan, juga dikenakan BPHTB. Dalam hal ini termasuk juga tanah warisan akan dikenakan biaya BPTHB.
Pasal 2 Undang-undang BPHTB menyebutkan bahwa yang menjadi objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Adapun, perolehan hak atas tanah dan atau bangunan tersebut meliputi:
  1. Jual beli;
  2. Tukar-menukar;
  3. Hibah;
  4. Hibah wasiat;
  5. Waris;
  6. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain;
  7. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan;
  8. Penunjukan pembeli dalam lelang;
  9. Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
  10. Penggabungan usaha;
  11. Peleburan usaha;
  12. Pemekaran usaha; dan
  13. Hadiah.
Adapun syarat dan Cara mengurus BPHTB untuk Hibah, Waris atau Jual Beli Waris, yang perlu dipersiapkan adalah;
  1. SSPD BPHTB
  2. Fotokopi SPPT PBB untuk tahun yang bersangkutan untuk mengecek kebenaran Data NJOP pada SSPD BPHTB.
  3. Fotokopi KTP Wajib Pajak
  4. Fotokopi STTS/Bukti ATM Bukti pembayaran PBB untuk 5 tahun terakhir (Untuk tahun 2013 hanya 3 tahun terakhir yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013) untuk mempermudah melakukan penagihan, jika masih ada piutang PBB, karena Biasanya pembeli tidak mau ditagih pajaknya sebelum tahun dialihkan.
  5. Fotokopi Bukti Kepemilikan Tanah (Sertifikat, Akta Jual Beli, Letter C atau Girik) untuk mengecek ukuran luas tanah, luas bangunan, tempat/ lokasi tanah dan atau bangunan, dan diketahui status tanah yang akan dialihkan.
  6. Fotokopi Surat Keterangan Waris atau Akta Hibah yang dibutuhkan untuk memberikan pengurangan pada setiap transaksi.
  7. Fotokopi Kartu Keluarga

No comments:
Write komentar

Silahkan berkomentar dan berdiskusi

Pilih Agen Asuransi

loading...